Wednesday, October 21, 2015

DASI, IBU, DAN JEMBATAN SHIRATHAL MUSTAQIM

Candid photo by Harris Rinaldi
Saking hebohnya kelakuan saya dua bulan terakhir ini, banyak pihak yang menanggapi dengan reaksi beragam. Padahal, kalau dipikir-pikir, sama sekali tak ada yang istimewa dari kelakuan saya tersebut. Anda semua pasti setuju bahwa memakai dasi pada hari dan kepentingan tertentu itu bukan barang yang aneh, fantastis, apalagi bid’ah alias mengada-ada. Apalagi bagi pegawai Direktorat Jenderal Pajak, memakai dasi sudah bagai keteraturan nafas. Kenapa lantas publik begitu heboH? Oya, kalau dirangkum komentar mereka berjenis-jenis, keren, berlebihan, nggak pantes, nggak matching, sok gaya, di-endorse pihak tertentu, sampai ditunggangi cukong dasi.
Terhadap hal itu saya bersikap biasa saja. Bahkan suatu hari ketika menghadap Kakanwil, dengan nada bercanda saya berkata, “Mohon maaf, Pak. Hari ini Bapak kalah dengan saya, saya berdasi...” Seperti biasa, pimpinan saya selalu menanggapi santai, “Ah, bisa aja kamu, Met.”
Kalaupun mau dibilang berlebihan mungkin adalah kegemaran saya mengunggah foto dasi ke dunia maya. Lagi-lagi hal itu pun sebetulnya juga tak ada maksud tertentu. Yah itung-itung menggerakkan perekonomian sektor telekomunikasi. Bukankah ketika kita sudah merdeka secara finansial kita nggak boleh irit?
Saya paham dengan sikap perlawanan teman-teman terhadap keharusan berdasi ini. Saya paham mereka punya alasan kuat sekaligus ego yang tak kalah kuat pula. Bagi mereka, dan saya sebelum berdasi, dasi adalah simbol pengekangan kebebasan, mencekik leher, tak proper untuk cuaca tropis, bukan busana asli Indonesia, simbol keborjuisan dan primordialisme, dan apalah. Fitrah manusia memang tak gampang diatur, tak suka dikekang, mendambakan kebebasan seluas-luasnya, dan seabreg markah lainnya.
******
Sebagai anak mbarep dari empat bersaudara, saya merasa paling dekat secara psikologis dengan orang tua saya. Bukan berarti ketiga saudara tak dekat, hanya masing-masing punya pola komunikasi yang berbeda. Meski demikian, saya bukan anak yang bisa dibilang berbakti. Saya jarang berkomunikasi verbal dengan mereka, bahkan sekedar menyapa lewat telepon. Sampai suatu hari, adik ketiga saya, Bowo, mengingatkan akan hal itu.
Njenengan itu suka di­-arep-arep bapak ibu, lho Mas. Apa susahnya sih sering-sering telpon mereka?”
“Bukan susah, Wo. Kalo keseringan telpon mau ngomongin apa dong?”
“Coba deh telpon tiap pagi, paling gampang minta aja doa restu buat keluarga njenengan…”
Byarrrr…. Kalimat dari bocah ingusan itu membuat saya terdiam. Anak macam apa saya ini, untuk urusan menyapa orang tua saja harus diajari.
Sejak saat itu, setidaknya dua hari sekali, saya selalu menelepon bapak ibu. Kebanyakan yang menerima panggilan saya adalah ibu. Seperti yang diajarkan Bowo kepada saya, di akhir pembicaraan saya selalu minta doa restu buat saya sekeluarga. Momen itu senantiasa menyisakan genangan air mata dan kegarauan suara. Dan ajaib, setelah menutup telepon, ada suntikan energi yang tak terbeli. Perkara simpel, mudah, dan murah, hanya perlu niat untuk melakukan suatu hal secara teratur.
******
Dalam teologi Islam, dikenal jembatan yang amat menakutkan bagi orang yang tipis kadar ketakwaannya seperti saya, Shirathal Mustaqim. Jembatan yang konon hanya setipis helai rambut dibelah tujuh itu melintang di atas jurang Neraka dan berujung ke Surga. Tak ada siapapun bisa melintasinya kecuali cukup bekal amalnya ketika hidup di dunia. Ngeri? Pasti. Namun bukan Tuhan jika Ia tak menyediakan solusi atas semua masalah. Solusinya pun tak berat-berat amat, hanya secara teratur “menyapaNya”. Perihal SOP menyapa Tuhan, rasanya ada beribu kitab yang bisa memandu manusia, tinggal bagaimana manusia tersebut mau diatur atau tidak, mau teratur atau tidak, mau bebas atau terkekang.
******
Maka, ketika hari ini saya pakai dasi dan menelepon ibu dan bapak, tentu tidak dalam maksud besar menyiapkan bekal yang cukup untuk melewati jembatan itu. Saya hanya berusaha menjalani keteraturan, barang yang seolah identik dengan Orde Baru, hal yang tanpa kita sadari harus kita lakukan, kecuali saya dan Anda sudah tidak bisa bernafas secara teratur lagi.
Selamat siang.
Bandung, 21 Oktober 2015
Post a Comment