Wednesday, October 14, 2015

MENAKAR SEORANG PRASTOWO JUSTINUS

Prastowo menerangkan soal skema Tax Amnesty

Saya sama sekali tidak menyangka bakal ketemu dengan sosok yang satu ini di kegiatan yang diadakan oleh Ditjen Pajak. Selama ini namanya memang telah malang melintang di benak saya. Beragam pertanyaan muncul setiap membaca namanya yang sering melintasi media massa. Siapa sih orang ini? Siapa sih yang membiayai kegiatannya? Siapa sih pangsa pasarnya? Kenapa sih media begitu mendewakannya ketika bicara soal pajak? Kenapa pula (Kayaknya) Jokowi pun percaya kepadanya? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain.
Sosoknya yang tak terlalu tinggi membuat saya percaya diri ketika dia menyalami saya dengan hangat di dermaga Marina.
“Apa kabar, mas Slamet?”
“Kabar baik, mas Pras. Njenengan apa kabar?”
Sejujurnya saya tidak terlalu yakin dia orang mana, tapi dari namanya, saya menebak dari orang Jawa. Pembicaraan di dermaga itu harus kami pungkasi karena kami berangkat ke pulau Ayer dengan kapal yang berbeda. Sepanjang perjalanan mengarungi teluk Jakarta pikiran saya tak bisa lepas dari sosok tadi. Kemisteriusan itu kian dalam.
Perjalanan dari dermaga Marina ke pulau Ayer hanya memakan waktu 30 menit. Setelah beristirahat sejenak, kami dipersilahkan memasuki ruang pertemuan. Saya segera menaruh seminar kit berupa kaos dan tas slempang di meja paling depan, lalu keluar ruangan lagi untuk ngrokok. Otak ini butuh asupan. Ketika pintu ruang pertemuan itu ditutup, sebagai pertanda acara akan segera dimulai, saya baru beranjak masuk.
Saya kaget ketika seminar kit tadi sudah bergeser tempat. Meja yang saya booking tadi sudah ditempati laptop merk Apel Krowak. Dalam hati saya muring-muring,  kurang ajar banget nih orang, berani nggeser tempat duduk pejabat prestisius. Belum usai saya ngumpat, tiba-tiba sosok penggusur itu datang. Saya tarik sisa-sisa umpatan yang belum sempat terkeluarkan. Ah… untunglah dia yang menggusur saya.
Panitia segera menggebrak kami dengan ice breaking ala P2Humas. Saya akui, mengadakan acara yang melibatkan wartawan itu nggak gampang. Memastikan kehadiran mereka saja sudah menjadi persoalan tersendiri, apalagi membuat mereka nyaman di acara berformat pertemuan agak resmi seperti ini. Makhluk yang satu ini memang dikenal rada tengil, susah di atur, dan susah diajak kompromi. Stigma itu akan kian kuat jika tidak pernah bergaul langsung dengan mereka. Menilai wartawan dari berita yang ditulisnya menurut saya kurang adil, karena dalam sebuah tulisan ada editor dan pemimpin redaksi yang terlibat. Belum lagi jika memperhitungkan kepentingan pemilik media. Menilai wartawan memang harus kenal dekat dengannya. Syukurlah teman-teman dari P2Humas punya kemampuan lunak yang baik, sehingga acara tersebut berjalan dengan cair.
Pria di samping saya itu sesekali ngajak ngobrol. Topiknya tak jauh dari isu yang sedang dibicarakan oleh narasumber yang sedang berbicara di depan. Mulai dari Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015, Tax Holiday, sampai Tax Amnesty. Terus terang pengetahuan saya tentang Tax Amnesty amat cetek. Oleh karenanya saya memilih manggut-manggut biar dikira paham. Beberapa istilah yang dia sampaikan semisal AEOI dan BEPS  sama sekali tak mampu saya mengerti. Analisis berbau penolakannya terhadap rencana Tax Amnesty dalam waktu dekat ini didukung oleh data dan fakta yang komperehensif.
Sesi acara formal berlangsung hingga pukul 16.00 WIB. Sebagian besar peserta menghambur ke kamar masing-masing. Secara tak sengaja saya terlibat obrolan ringan dengan teman sebelah meja tadi. Terkuaklah kampung halamannya, Gunung Kidul. Oalaaaaah… ternyata ndeso to… obrolan itu pelan-pelan juga menyingkap ingatan saya kepadanya. Kawan ini kalo tidak salah pernah tampil di opera Natal DJP beberapa tahun lalu. Namanya memang mencirikan dia seorang Katolik. Ah… harus hati-hati ini.. Jangan sampai saya dijadikan domba olehnya.
Malam harinya kami kembali duduk satu meja. Acara inti sudah usai, menyisakan beberapa gelintir panitia yang masih sibuk meringkasi property dan kami berenam, saya, Ani, Timbul (Kompas), Agus (CNN Indonesia), Prastowo, dan satu orang wartawan lagi yang saya lupa namanya. Obrolan kami tak tentu topik, loncat-loncat kian kemari. Saya membuka wacana soal bencana Mina, Hajar Aswad, Islam garis keras, dan sejarah komunisme. Hal yang terakhir itu saya contek dari Gita Wiryawan dan Tauiq ketika minggu lalu nginap di rumah saya. Saya memang punya rencana, menghadapi mereka yang notabene tak beragama Islam harus dimulai dengan hal yang ringan-ringan soal Islam. Tujuan saya agar mereka rileks sehingga tak defensif. Ani menimpali dengan cerita soal gesekan Islam – Nasrani di kampus STAN periode masa pendidikan kami. Cerita tentang seorang kawan yang harus turun dari jabatan ketua kelas karena dia seorang Nasrani kami ungkit lagi. Pun kesaksian saya soal betapa tantangan keimanan sebenarnya itu bukan saat di kampus, tapi di dunia kerja.
Prastowo lalu menceritakan tentang bapaknya yang amat teguh soal agama. Meski bukan pemuka agama, kegiatan dakwahnya melebihi seorang pastor. Pras juga bercerita bahwa bapaknya berani mendatangi masjid untuk memutar arah speaker agar tak mengarah ke rumahnya. Keren, kata saya.  Dia juga bercerita tentang omelan istrinya ketika dia malah menantang debat dengan pengikut sekte Saksi Jehovah di rumahnya. Pun juga kerelaannya untuk menyumbang buku-buku agama Islam dengan maksud yang tak saya duga. “Saya hanya pengin mereka pintar beragama, Mas Slamet. Dengan begitu mereka tak menjadi bodoh dan merepotkan lingkungan,” ujarnya memberi penjelasan. Saya berani taruhan, bahkan di kalangan muslim pun pemilik ide seperti itu tak banyak. Lha wong anak kecil ribut di masjid aja malah diusir….
Ketika akhirnya kantuk dan lelah mendera, saya berinisiatif membubarkan persekutuan itu. Jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Misteri soal CITA dan sebagainya masih buram. Biarlah itu jadi PR saya.
Angin teluk Jakarta begitu sumuk. Cemilan berupa kambing guling saya tinggal begitu saja di meja. Jika pun bukan pelayan restoran yang mengambilnya, saya rela itu jadi makanan carnivora daripada membusuk percuma. Menakar seorang Prastowo Justinus memang ibarat membaca ensiklopedia yang butuh waktu berhari-hari lamanya.

Bandung, 14 Oktober 2015.
Post a Comment