Monday, November 16, 2015

Tragedi Paris dan Doa-doa yang Terlupa


Gedung G Kampus STAN-Jurangmangu, sekitar tahun 1993
Hari Minggu yang seharusnya menjadi hari istirahat sembari bersih-bersih rumah kontrakan menjadi hari yang penuh gejolak. Pagi itu di kampus kami diadakan pemutaran film dokumenter tentang pembantaian Muslim di Bosnia. Ya sudah, selain memang menyukai tayangan yang berdarah-darah, sebagai sesama muslim tentu saya harus berempati. Tidak dengan berjihad di sana, cukuplah berkumpul bersama, memanjatkan doa, lalu menguatkan keyakinan bahwa tragedi itu layak dipungkasi dengan menonton film bersama.

Kenyataannya memang kami berdoa dengan khusyuk. Kami larut dalam perasaan geram dan tertindas, lalu berharap doa itu segera dikabulkan oleh Sang Penguasa Alam Raya. Alhamdulillah, tragedi kemanusiaan itu akhirnya usai pada tahun 1995. Manusia memang punya senjata andalan ketika semua mesiu tak mempan melemahkah musuh secara fisik, yaitu lantunan doa.

Jauh sebelum itu, di tanah Palestina juga bergolak konflik serupa. Ada permusuhan yang berujung adu senjata. Ada korban di pihak kami, kita, kalian. Maka selain kepergian para pria pemberani yang terjun ke medan laga, kami semua berdoa dari Indonesia. Siapa yang berharap saudaranya tertindas di tanah kelahirannya sendiri? Tak ada. Khotib Sholat Jumat sering menyelipkan Palestina, Bosnia, India, dan banyak daerah konflik lainnya dalam munajadnya kepada Sang Maha Kuasa. Jutaan manusia berdoa untuk hal yang sama selamat bertahun-tahun, dari dulu hingga kini, tak putus harap, karena hanya itulah yang mungkin tersisa agar kami tetap bisa hidup.

Paris, Sabtu lalu..
Kota mode yang terkenal dengan menaranya itu mendadak diguncang teror. Ratusan nyawa melayang di ujung pelor dan petasan mematikan. Dunia, setidaknya media, lalu bereforia, termasuk saya. Saya sendiri bahkan tidak merasa punya tautan persaudaraan dengan para korban, kecuali bahwa kami adalah sama-sama makhluk Tuhan, berjalan di bawah matahari dan bulan yang sama, menghirup oksigen dari pabrik yang sama dan akan mati pada alam yang sama. Tidak, tidak lebih dari itu. Tidak lebih dari rasa kasihan saya pada lek Par*** yang minggu lalu mati di pohon Sengon Laut milik bapak di kampung sana.

Lalu apakah saya, kami, sedang berpihak pada kekafiran? Apakah rasa kemanusiaan harus kami pangkas? Apakah rasa kearifan harus dihitung dari sederet angka statistik tentang jumlah korban, lokasi kejadian, atau apapun itu? Saya memilih tidak. Bagi saya berdoa tanpa liputan media seperti masa tragedi Bosnia itu sama dengan tak menamai domba yang saya korbankan pada hari Idul Adha. Saya percaya, Tuhan tak pernah salah alamat.


Semarang, 16 Nopember 2015.
Post a Comment