Sunday, February 14, 2016

Kisah para Pahlawan dari Belantara Pangandaran

Garis pantai Barat Pangandaran
Belantara itu sesungguhnya adalah sebuah dusun bernama Pangandaran. Dusun yang dikitari pantai yang menghadap dengan arah berlawanan, Barat dan Timur. Belantara yang sejak lama menjadi destinasi wisata bagi ribuan orang setiap pekannya.

Tiga pria berkaos kuning itu tengah duduk menghadap pantai, beralaskan pelampung dan papan selancar. Meski terlihat santai, tatapan mereka amat waspada. Pos 1 sepanjang 400 meter ini menjadi tanggung jawabnya. Sesungguhnya mereka bukan kelompok pria biasa. Di pundak mereka tersemat tugas berat, menjaga keselamatan pengunjung yang jumlahnya tak terhitung. Mereka adalah Balawista atau Life Guard;  sosok heroik seperti dalam film Baywatch.
Balawista sedang mengawasi suasana pantai Barat Pangandaran
Benar saja, tak lama berselang seorang balita ditemukan oleh sekelompok pengunjung. Ia terpisah dari orang tuanya. Dengan sigap salah seorang dari mereka segera menuntun anak yang tampak bingung tersebut. Tak ada jawaban sepatah kata pun darinya ketika ditanya siapa nama orang tuanya. Akhirnya balita itu diajak ngobrol saja, sembari ditenangkan oleh ketiganya. Tak lama berselang seorang anak yang lebih dewasa datang tergopoh-gopoh. Rupanya sejak tadi dia mencari-cari keberadaan adiknya.
Seorang balita ditemukan tersesat oleh sekelompok wisatawan
Balita tersebut segera dibawa ke pos I

Balawista sedang mewawancarai balita tersesat
Detik-detik pertemuan kakak beradik

Sang adik masih sempat menoleh ke arah saya

Pak Endang bernafas lega sebelum siaga lagi untuk kejadian selanjutnya

Demikianlah sekelumit kisah sang Balawista pagi ini. Mengurus bocah tersesat di pantai menjadi tanggung jawabnya, tak sekedar menyelamatkan jiwa wisatawan yang terancam oleh keganasan ombak Samudera Indonesia.

Pak Endang, pria beranak tiga ini adalah sosok yang paling senior di jajaran Balawista Pangandaran. Dia direkrut Dinas Pariwisata tahun 1995. Di balik penampilannya yang terkesan garang, dia adalah pria lembut. Menurut pak Usman, rekan sesama anggota Balawista, pak Endang memang pria pemberani.

“Urusan mayat busuk dia jagoannya, Mas. Tempo hari ada mayat sudah pecah perutnya, dia masukkan lagi isi perutnya dengan tangan, tanpa sarung tangan,” ujar pak Usman. Tiba-tiba perut saya mual.

Dengan wilayah kerja sepanjang pantai wisata Pangandaran, keberadaan mereka memang amat vital. Hingga saat ini di seluruh kawasan pantai Pangandaran terdapat 30 Balawista. Jumlah ini tentu tak sebanding dengan area kerja mereka. Namun demikian, keberadaan mereka dengan segala keterbatasannya, ternyata mampu menekan angka kecelakaan di sana. Tingkat korban jiwa turun drastis dari rata-rata 12 per tahun menjadi 3 korban jiwa per tahun. Sedemikian vitalnya fungsi mereka tak lantas membuatnya berpenghasilan layak. Sebutlah angka 1,5 juta, maka itulah penghasilan mereka sebulan, untuk Balawista senior. Yang masih yunior harap ikhlas dengan penghasilan 500 ribu sebulan.

Lalu apa yang membuat mereka mampu bertahan? Pak Usman dan pak Endang sepakat bahwa pekerjaan ini adalah panggilan jiwa. Sikap yang membuat saya tertegun mengingat penghasilan yang tak sebanding dengan risiko yang mereka panggul.

Namun bukan manusia jika mereka tak cerdik. Tak dinyana ternyata pak Usman punya keahlian lebih dari sekedar penyelamat jiwa. Dia jago menyeting alat komunikasi jarak jauh. Kepiwaian tersebut mengantarkannya menjadi salah satu orang yang berperan dalam kepanitiaan Tour de Singkarak yang fenomenal tersebut. Demikian juga dengan pak Endang. Dia amat paham urusan berburu bagong (babi hutan). Pegiat berburu sering menggunakan jasanya untuk memandu kegiatan mereka.

Ketika saya tanya, apa harapan mereka kepada pemerintah, jawabnya sungguh naif.

“Kami tak terlalu butuh diangkat jadi PNS, Mas. Bagi kami lebih penting bagaimana bisa kerja sepenuh hati menjaga keselamatan tamu kami, tanpa perlu pusing urusan dapur.”

Pernyataan sederhana, menusuk, dan selayaknya jadi perhatian para penguasa negeri ini.

Perjalanan Pangandaran - Bandung, 14 Februari 2016

Post a Comment