Wednesday, March 2, 2016

LGBT dan Kerisauan seorang Pemuda Tampan

Kisah berikut adalah nyata, berdasar penuturan dari dua teman saya. Yang satu seorang gay, yang satunya lagi lelaki tulen.

Meski berasal dari sekolah yang sama, dulu kami tak saling kenal. Group chat-lah yang akhirnya mempertemukan kami dalam jalinan pertemanan. Sebut saja G, ia pria keturunan, posturnya berisi, gesturnya kemayu. Gaya bicaranya blak-blakan, hal yang akhirnya membuat saya berani menanyakan orientasi seksualnya.

"Aku gay, Met. Sejak kecil aku nggak pernah suka sama cewek," ujarnya di chating. "Bukan berarti aku nggak berusaha sembuh, aku pernah nembak cewek, lho." 

Ada kesenduan di balik penggalan kalimat tersebut. Dia juga mengaku kondisinya diperparah oleh penolakan cintanya kepada dua orang cewek. Tak sekedar penolakan yang dia dapat, tapi juga pelecehan, demikian menurut pengakuannya. Pelecehan pun harus ia terima akibat posturnya yang memang "lemu ginuk-ginuk". Sejak peristiwa itu dia memantapkan langkah, tak akan mencari kekasih dari jenis yang berlawanan.

"Aku menemukan kedamaian dalam pelukan pria, Met."
"Kenapa kamu nggak pengin menikah, G?"
"Wanita itu berubah setelah menikah, banyak tuntutan, belum lagi kekangan adat. Wis pokoke aku nggak bisa."

Ada nada keputusasaan di sana.

"Cuma aku nggak memungkiri kalo aku pengin punya anak dari benihku sendiri, Met."

Awh.... saya tercekat. Dia seolah bukan G,  pria yang tanpa beban. Pernyataannya merontokkan praduga saya selama ini, bahwa kaum LGBT ini tak peduli soal keturunan.

"G, apakah gay itu bisa nular?"
"Nurut aku nggak. Beda dengan kepepet lho ya, misal orang lagi di penjara terus dia em el sama temen sejenis. Setelah keluar mereka ya tetep balik ke cewek. Beda lagi kalo memang biseks. Eh, tau nggak, temen-temen kita beberapa ada yang biseks lho..."

Saya sengaja tak melayani ajakan gosipnya.
Pernyataannya soal penularan membuat saya bernafas lega. Setidaknya saya tak perlu terlalu kawatir dengan kedua anak saya. Kelegaan itu kian bertambah ketika dua malam lalu saya ngobrol intens dengan si sulung.

"Kamu nggak pacaran, Nak?"
"Lagi males, Pak. Ada sih yang lagi kudeketi, tapi nanti aja lah. Eh, Bapak tahu nggak, waktu kelas 1 kan aku pacaran sama R," tanpa saya minta dia nyerocos sembari menyebut nama teman sekelasnya. Temannya itu seorang wanita. 

Dengan si bungsu yang duduk di kelas 2 SMP saya lebih tak kawatir. Suatu hari teman-temannya ngumpul di rumah. Salah seorang dari mereka bercerita bahwa anak bungsu saya sudah nembak cewek sebanyak 4 kali, dan keempat-empatnya menolak semua...hahahaha

Beberap baris chat saya dengan G saya forward ke sohib saya. Ada alasan tersendiri kenapa saya melakukan hal itu. Dia termasuk golongan yang secara frontal menolak LGBT. Saya menghargai sikapnya meski tidak setuju dengan caranya. Jawaban yang saya terima beberapa saat kemudian membuat saya ketawa ngakak.

"Saya dulu juga nggak pengin nikah lho, Mas?"
"Kenapa?"
" Alasanya sama persis dengan temen Mas."

Oalah Le.....Le.... gantengmu setinggi langit, kepiwaian senimu seabreg-abreg, lha kok nikah aja takut....

Bandung, 2 Maret 2016
Post a Comment