Thursday, May 30, 2013

Masih Adakah Pegawai (Pajak) yang Berdedikasi?

Saya agak terhenyak ketika membaca email yang isinya memuat komentar seseorang terhadap tulisan sahabat saya, mas Ichan. Tulisan tersebut mengulas perjuangan teman-teman pegawai pajak yang bertugas di KPP. Pratama Batulicin, Kalimantan Selatan. Betapa hari-hari mereka jauh dari sanak keluarga. Betapa dedikasi mereka pada tugas negara meski dengan segala keterbatasan dan menghadapi tantangan alam yang mematikan.

Tulisan itulah yang memecut semangat saya untuk juga menulis hal serupa. Kebetulan kami berdua mendapat tugas yang sama. Saya bersama mas Yos dan Angga ditugaskan ke Putussibau. Yang membedakannya mungkin sudut pandang dan gaya bertutur kami. Saya lebih menonjolkan beratnya tantangan alam dari sisi saya yang menjalani tugas ini, sementara mas Ichan mengambil sudut lebih banyak dari sisi teman-teman yang sehari-hari bertugas di sana.

Saya memang tidak berani terlalu menilai seseorang berdasar apa yang saya temui sesaat. Pengalaman saya mengajarkan bahwa manusia itu makhluk yang amat dinamis, fluktuatif, malah terkadang amat skeptis. Makanya saya tidak berani mengambil sudut pandang tulisan saya dari sisi mas Yusman, pak Wagimin atau Rian, karena bisa saja saya salah menilai. Bisa saja mereka berakting seolah-olah mereka enjoy menjalani keseharian di perantauan tanpa kesah sama sekali, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Tulisan ini tidak bermaksud meng-counter tulisan mas Ichan. Saya percaya dengan keteguhan hati teman-teman di perantauan. Saya percaya mereka berkomitmen menjaga integritas nilai-nilai organisasi. Komentar dari seorang respondenlah yang membuat saya tergelitik. Seseorang yang saya taksir adalah pegawai KPP. Pratama Batulicin agak membantah penilaian penulis tentang personality tokoh-tokoh di tulisan itu. Sang komentator bilang bahwa kenyataannya mereka adalah orang-orang yang suka mengeluh ditempatkan di Batulicin.

Saya jadi merenung setelah membaca hal itu. Saya mencoba mengingat-ingat lagi, adakah teman sekerja saya yang bertugas di homebase yang tidak pernah mengeluh? Rasanya tidak ada, semua pernah mengeluh, bahkan ada juga yang mengumpat. Atau apakah saya yang notabene juga bertugas di homebase, dengan jobdesk yang menurut beberapa teman amat enak karena sesuai hobi pernah mengeluh? Amat sering. Saya juga pengeluh. Saya sering kesal dengan institusi saya yang lamban dan tambun ini.
Lantas apakah ketika kita mengeluh itu berarti kita telah ingkar sebagai pegawai yang baik? Kok rasanya terlalu dangkal apabila persoalannya kita sederhanakan seperti itu.

Nilai pekerjaan kita terletak pada sejauh mana kita memikulnya, bukan bagaimana cara kita menjalankannya.

Imho....
Post a Comment