Wednesday, May 29, 2013

Ngintip Orang Mandi



Ngintip Orang Mandi
Satu dari Beberapa Kisah Awal Meniti Karir di KPP. Baturaja

Membujang di perantauan, berkawan dengan teman senasib, sebenarnya menyenangkan saja. Banyak kegiatan bareng yang bisa kami lakukan karena memang kami nyaris punya kegiatan pribadi. Hampir semua aktifitas dilakukan bareng-bareng. Ngopi, nongkrong di bioskop Pasar Inpres, main dingdong dan sebagainya.
Tapi entah kenapa sore itu aku terjebak dalam kesendirian. Teman sekantor sekaligus sekost, Ragil sudah menghilang entah kemana. Belakangan memang dia menjalin hubungan rapat dengan wanita ayu di dekat kost kami, Air gading. Jadilah aku sendirian di kantor.
Mas Mul, laki-laki legendaris itu mendatangiku tanpa ku minta. Seperti biasa, wajahnya cengar-cengir, membikin kumis sungut lelenya kian menjijikan. Di pundaknya tersampir handuk, tangan kanannya menenteng gayung berisi peralatan mandi.
"Belum pulang pak Slamet?" tanyanya sambil menyulut sebatang rokok.
"Belum mas, lagi pengin berlama-lama di kantor," jawabku sambil ikutan menyulut rokok.
"Eh pak, mau ngintip orang mandi nggak," ujar mas Mul setengah berbisik.
"What? Dimana...dimana....?" sahutku penuh antusias.
"Itu, dari ruangan seksi PDTUP, manjat meja," katanya sambil menunjuk ke arah ruangan di seberangan ruanganku.
Kantor kami berbentuk hurup "U", di bagian tengahnya adalah taman yang tak begitu terawat. Ruanganku berada di salah satu tiang huruf itu. Seberang ruanganku adalah ruangan seksi PDTUP tempat segala pemberkasan dan perekaman data dilakukan.
"Ayooook, sekarang?" aku menyahut dengan antusias. Sore-sore bgini, sendiri, membujang, tawaran apa yang lebih menarik selain mengintip orang mandi?
Ruangan ini di bagian dinding belakangnya berjendela dengan ketinggian sekitar 2,5 meter. Perlu memanjat untuk mengetahui keadaan di balik jendela itu. Aku baru sadar kalau di belakang persis ruang seksi PDTUP adalah kamar mandi rumah sebelah kantor. Kamar mandi itu berjendela kecil yang posisinya lebih rendah dari jendela woven kantor kami sehingga sudutnya pas banget untuk mengintip. Pengintip nggak bakal kepergok oleh orang yang sedang mandi karena posisinya tersebunyi. Mas Mul yang duluan menaiki meja. Beberapa berkas SPT harus kusingkirkan terlebih dahulu agar tidak terinjak. Bandel...!
"Masih gelap pak, belum ada yang mandi. Tungguin di sini saja ya. Nanti kalo sudah ada yang mandi juga kedengeran kok dari sini", katanya sambil pamit mau mandi.
Aku duduk termangu di ruangan itu. Imajinasiku sudah merajai isi otakku.
Suara guyuran air di kamar mandi rumah belakang kantor membuat jantungku berdegup kencang. Saatnya beraksi. Dengan hati-hati ku naiki meja itu. Harus sedikit berjinjit agar bisa mendapatkan sudut yang pas ke arah kamar mandi itu. Nafasku makin memburu ketika mataku mulai bisa mengenali situasi di kamar mandi itu. Peneranganya temaram, hanya bolam berdaya 10 watt. Dindingnya pun tanpa cat sehingga menambah kemuraman pencahayaannya. Samar-samar kuliat perut rata yang sedang disabuni oleh tangan mulus. Bagian atas perut sampai kepala tidak bisa terlihat karena terhalang sudut jendela. Gerakannya amat erotis, membuat reaksi kimia yang aneh sekaligus menyenangkan di tubuhku. Pelan-pelan dia mulai sedikit membungkuk untuk menyabuni bagian bawah tubuhnya. Perasaanku makin tidak keruan. Aku menahan nafas, nyaris terjengkang dari meja itu ketika sesaat kemudian baru kusadari ternyata yang sedang mandi adalah seorang cowok.
Mas Muuuuuuuulllllll.....!!!!!!
Post a Comment