Wednesday, May 29, 2013

Hati yang Tertukar


Hati yang Tertukar
Satu dari beberapa kisah meniti awal karir di KPP. Baturaja

Terik di luar membuatku malas beranjak makan siang di luar kantor. Solusinya mudah, siapkan uang 5.000 rupiah, panggil pesuruh kantor, minta tolong buat membeli nasi bungkus, beres.
Jadilah aku berleha-leha di ruangan seksi PPN dan PTLL sendirian. Berkantor di kota kabupaten yang lumayan terpencil membuat budaya kerja kami kurang profesional. Jam istirahat yang seharusnya hanya satu jam sering dilanggar. Bagi pegawai yang asli Baturaja kebanyakan pulang ke rumah untuk makan dan bahkan tidur siang. Pukul 15.00 baru mereka kembali ke kantor. Bagi pendatang sepertiku pilihannya jadi beragam, pulang ke kos, makan di luar atau minta tolong pesuruh kantor seperti sekarang ku lakukan. Gudang Seksi PPN dan PTLL yang sekaligus berfungsi sebagai ruang ketik segera kusambangi. Letaknya persis di belakang meja kerjaku. Posisi ini menguntungkanku, karena aku masih bisa memantau meja kerjaku dari dalam ruangan ini. Komputer Acer 486 DX segera kusambangi. Solitaire adalah game yang paling kusukai, cara mainnya sederhana, mengingatkanku pada masa kecilku ketika suka duduk di belakang orang main judi kartu ceki di rumah orang tuaku.
Belum lama aku memainkan Solitaire ketika sesosok lelaki paruh baya masuk ke ruanganku tanpa sapa. Mungkin dia menyangka ruangan ini kosong, karena memang masih jam istirahat.
Segera kuhampiri dia lantas ku sapa, "Ada yang bisa saya bantu, pak?".
"Ini Pak, maaf mengganggu, mau lapor SPT PPN," jawabnya seketika.
Aku tahu apa yang harus segera ku lakukan, siapkan stempel kantor, stempel penanggalan dan alat tulis. Pekerjaan rutin yang tidak memakan waktu lama.
"Silahkan pak, sudah saya terima SPT-nya", ujarku sambil menyodorkan tanda terima kepadanya.
"Wah terima kasih pak. Saya pikir saya tadi harus menunggu sampai jam istirahat berakhir,” jawab bapak itu dengan muka sumringah. Tangannya merogoh kocek bajunya. Selembar uang berwarna kebiruan disesakkan ke kantong bajuku.
"Pak, mohon diterima ala kadarnya dari saya, jangan ditolak. Makasih sudah dilayani", katanya sambil bergegas pergi.
Dua langkah dari meja kerjaku sudah berupa halaman kantor, artinya belum sempat aku bereaksi dia sudah berada di luar sana. Pergi dengan langkah bergegas di bawah terik siang. Aku terduduk lunglai, tak berani melirik kantong bajuku. Terbayang lagi kedatanganku di kantor ini untuk melapor bertugas di sini dengan janji suci. Dan itu baru beberapa bulan lalu. Mataku berkaca-kaca, sulit menggambarkan perasaan waktu itu.
Hatiku telah tertukar....
Post a Comment