Tuesday, August 27, 2013

58 Detik



Kepergian saya siang ini ke kantor hanyalah untuk mengambil sejumput kain bahan baju. Kain motif batik tersebut merupakan bahan seragam panitia Konferensi SGATAR minggu depan. Saya berpikir mumpung hari libur dan itulah waktu luang saya untuk membawanya ke penjahit langganan di pasar Kramat Jati.

Perjalanan ke kantor sempat terhadang kemacetan di lampu merah Pancoran. Saya menyesal kenapa saya tadi tidak masuk tol di pintu depan menara Saidah. Jakarta tetap menyajikan kemacetan meski di hari libur. Akhirnya saya masuk tol di pintu depan eks Mabes AU. Penyesalan saya niscaya akan bertambah jika nekad tidak masuk tol, karena ternyata menjelang lampu merah Kuningan lalu lintas  juga macet.

Setiba di kantor saya segera mencari bahan baju tersebut. Kepalang tanggung, saya sekalian saja memindahkan file dari kartu memori kamera ke komputer. File tersebut adalah hasil liputan saya di Semarang dan Magelang hari Kamis dan Jumat kemarin. Tiba-tiba telepon seluler saya berdering, anak bungsu saya menelepon.

"Pak, masih di kantor?"
"Masih, Nak."
"Pulang jam berapa? Aku jam satu minta dianter les sama Bapak."
"Ni sdh mau pulang kok, Nak. Sebentar ya."

Saya lirik arloji saya, pukul 12.15 WIB. Saya bergegas membereskan meja sembari menunggu proses pemindahan file ke komputer. Seperangkat kamera saya pindahkan dari tas ke dry cabinet.

Saya baru saja mau menyalakan mobil ketika anak saya menelepon lagi.

"Pak, sudah dimana?"
"Bapak masih di parkiran kantor, Nak. Ni mau pulang."
"Ya udah, cepetan ya, ngebut aja, salipin semua mobil."

Saya melirik arloji saya, pukul 12.30 WIB. Anak bungsu saya ini karakternya memang berbeda sekali dengan kakaknya. Kakaknya cenderung pendiam, dia tidak. Anaknya suka memprovokasi, sifatnya juga agak temparemental. Yang jelas itu bukan sifat bawaan saya.

Syukurlah lalu lintas arah pulang lancar-lancar saja. Di simpang susun Semanggi seorang pengendara sepeda motor dihentikan polisi karena masuk ke jalur khusus mobil. Saya terpaksa menghentikan laju mobil saya, memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk menyelesaikan urusannya.

Saya kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Saya menghidupkan koleksi lagu-lagu Jawa klasik dari head unit mobil.Saya seperti trance setiap mendengarkan alunan lagu Jawa klasik Target saya pukul 12.50 WIB tiba di rumah untuk langsung mengantar anak saya ke tempat les.

Simpang susun Cawang saya lampaui dengan lancar. Saya sedari tadi mengambil posisi di lajur paling kanan. Lampu merah tinggal sekitar seratus meter lagi. Dari puncak simpang susun tersebut terlihat antrian mobil menunggu lampu berwarna hijau. Jumlahnya sekitar sepuluh mobil. Saya memelankan laju mobil saya.

Mendekati ekor antrian, saya pindah ke lajur kiri. Lajur kanan biasanya antriannya lebih lama karena banyak mobil memutar di lampu merah tersebut, meski jelas-jelas ada tanda larangan memutar. Saya berhenti di belakang mobil Mitsubishi lancer Evo III berwarna hitam.

Baru saya mau memindahkan tuas gigi ke posisi N, lampu merah berubah warna ke hijau. Meski saya buta warna parsial red green, tak usah diragukan kemampuan saya membedakan warna lampu merah. Saya urung memindahkan tuas gigi. Lampu merah ini dilengkapi dengan penunjuk waktu. Siang itu nyala lampu hijau diberi waktu lima puluh delapan detik. Saya melirik arloji, pukul 12.45 WIB, aman, pikir saya.

Bruk!!!! Saya kaget. Suara itu entah datang dari mana. Saya sapukan pandangan ke seliling mobil, tidak ada yang aneh. Pandangan saya lantas tertuju ke depan mobil saya. Saya merasa posisi Mitsubishi di depan saya sangat mepet dengan mobil saya. Saya diam sejenak, mencerna kejadian baru saja. Saya baru sadar, posisi gigi mobil saya di D dan hanya saya tahan dengan pijakan rem kaki.  Saya tidak menguncinya dengan rem tangan.

Saya beriam dalam mobil sambil membuka jendela kaca depan. Seorang pemuda berumur 30an, berperawakan kurus, berkulit putih, memakai kaca mata minus keluar dari Mitsubishi, mendatangi saya. Di belakang saya suara klakson memekakkan telinga, protes kepada saya.

"Mas, kita berhenti di depan aja ya, nggak enak, nanti bikin macet."

Pemuda itu kembali ke mobilnya. 58 detik tadi sudah berlalu. Mobil kami terhadang lampu merah. Pemuda itu kembali mendatangi saya. Wajahnya menggambarkan emosinya. Saya menenangkan diri saya.

"Mas, maaf, saya yang salah. Kita berhenti di dekat bengkel Nissan ya."

Dua ratus meter dari lampu merah tadi Mitsubishi itu berhenti, saya ikut berhenti. Dia berjalan ke arah belakang mobilnya, memeriksa bumper belakang. Kukunya mengorek-orek cat yang terkelupas.

"Mas, saya minta maaf. Saya yang salah. Kita ke bengkel aja yuuk, biayanya saya ganti."

Saya mengulurkan tangan, dia menyambutnya, kami berjabat tangan.

"Wah, nggak bisa, Pak. Saya mau pulang."
"Pulang ke arah mana, Mas?"
"Ke Ciracas."
"Ya udah, kita mampir bengkel sekalian saja. Bengkelnya bagus kok, langganan saya. Letaknya di sebelah kanan, sebelum makam Kebon Pala."
"Bapak tinggal dimana?"
"Saya tinggal di Kampung Makasar, Mas."
"Ya sudah kalo gitu. Bapak duluan, saya ikut di belakang."

Agak susah untuk mendahului mobil itu di jalur utama bandara Halim ini.  Jalannya hanya dua jalur dan siang ini amat ramai. Di depan klub eksekutif Persada saya baru berhasil mendahuluinya. Mendekati bengkel Ketok Magic Pak Imam, saya memelankan laju mobil. Saya langsung parkir di depan pintu bengkel, satu-satunya tempat yang tersedia siang itu. Mitsubishi itu berhenti di seberang bengkel.

"Ciloko, mas... Aku nyruduk mobil," ujar saya kepada tukang ketok yang menyambut saya.
Hampir seluruh pegawai bengkel ini telah saya kenal dengan baik. Sejak tahun 2000 saya berlangganan dengan bengkel ini. Meski bernama ketok magic, tak usah berharap ada unsur magis dalam proses kerjanya. Mereka hanya mengandalkan puluhan alat ketok dan kepiwaian mengetok penyok semata, tak lebih. Bahkan tak seperti bengkel ketok magic lainnya, dia tidak menyembunyikan proses kerja pengetokan mobil.

"Mana mobil yang ditabrak, Pak?"
"Tu, parkir di seberang."
"Suruh parkir depan makam aja, Pak. Nanti saya lihat."

Saya menyeberang jalan. Pemuda itu saya suruh parkir di lahan parkir makam yang jaraknya hanya 30 meter dari sini. Saya menyusul berjalan kaki bersama tukang ketok.

"Ini mas, tolong diperbaiki bumper belakang, ongkosnya jangan mahal-mahal lho," ujar saya kepada tukang ketok sesampai di parkir makam.
"Ini harus dicat satu bumper, Pak. Kalo nggak nanti belang."
"Yo wis, kalo memang harus begitu..."
"Enam ratus ribu, Pak."
"Wah...kok mahal gitu?"
"Iya, Pak. Bumper ini baru saja saya cat. Habisnya memang segitu," sergah pemilik Mitsubishi itu.
"Tapi mobilnya harus nginap lho, mas."
"Waduh, mobilnya saya pakai kerja, je. Gimana, dong."
"Ya sudah gini saja, mas," saya menyela. "Kalo memang hari ini mas belum sempat mbetulin di sini karena mobilnya mau dipakai, silahkan saja kapan-kapan ke sini lagi. Pokoknya semua biaya saya tanggung."
"Gini aja deh, Pak. Saya minta ganti uang aja."
"Oh, ya sudah kalo gitu. Kita ke ATM depan, Mas."
Oya, Pak. Saya minta gantinya nggak usah 600.000 tapi 500.000 saja."
"Okay, mas."

ATM BRI yang seyognyanya saya hampiri ternyata parkirnya penuh. Saya lantas beralih ke ATM lain di mini market Alpha Midi Kampung Makasar. Perlu waktu lima menit untuk tiba di sini.

Sepuluh lembar uang pecahan lima puluh ribuan saya sodorkan kepadanya yang menunggu saya di parkiran mini market.

"Berapa ini, Pak?"
"Lima ratus ribu, kan Mas. Sesuai dengan jumlah yang sampeyan minta."
"Nggak kebanyakan, Pak?"
"Lho....lha sampeyan mintanya berapa to?"
"Iya sih, Pak."
"Ya sudah mas, terima saja. Saya yang salah. Saya ikhlas dan fair kok, Mas."
"Baik, Pak. Makasih pengertiannya."

Kami berpisah di sini. Saya menelepon rumah sebelum beranjak, berharap anak saya belum berangkat les.

"Abyan sudah berangkat bareng temennya, Pak. Naik angkot," ujar nyonya saya di seberang telepon.

Saya tertunduk lesu. Pukul 13.15 WIB.


Kampung Makasar, 24 Agustus 2013
Post a Comment