Tuesday, August 27, 2013

Berlebaran dengan Musuh Bebuyutan

Sawah di seberang ladang bapak
 
Wonogiri, 9 Agustus 2013. Lebaran hari ke dua.
Hawa dingin semalam, kami menyebutnya bediding, hanyalah salah satu pertanda bahwa musim kemarau telah tiba. Jauh-jauh hari sebelum mudik adik saya, Titik, sudah berpesan agar kami membawa selimut tebal. Hawa di desa saya sedang tidak bersahabat. Ketika siang panas terik, sedangkan malam hari dining menusuk tulang. Selimut hangatlah yang kemudian  meninabobokkan saya, terlelap sampai-sampai adzan Subuh di mushola depan rumah bapak saya tak terdengar. Ujian keimanan  yang sebenarnya, kata ustadz di sebuah pengajian, memang pada Subuh lebaran ke dua. Jika pada Lebaran hari pertama Sholat Subuh kita masih terjaga kualitasnya karena biasanya kita akan meneruskan aktifitas sholat Idul Fitri, tidak demikian dengan lebara hari ke dua. Dan itulah yang terjadi pada diri saya pagi itu. Iman saya belum teruji.

Desaku dari atas Watu  Gowok, Pakelan
Kelar menunaikan sholat Subuh yang kesiangan tersebut saya beranjak ke kandang ayam. Ada beberapa butir kelapa yang belum dikupas. Ibu semalam sudah menyuruh saya mengupasnya untuk malam nanti santannya dipakai memasak opor ayam. Agak lama baru bisa menemukan linggis yang akan saya pakai untuk mengupas kelapa ini. Rupanya linggis itu ditaruh bapak di bagian belakang kandang ayam. Saya segera menancapkan bagian atas linggis tersebut ke dalam tanah yang lunak permukaannya. Perlu beberapa kali upaya agar linggis tersebut tertancap dengan kukuh di tanah. Saya lantas mengambil sebutir kelapa dan segera membenturkannya ke ujung linggis untuk mengupas sepet kulit kelapa. Kebisaan ini saya punyai sejak kecil dan sampai sekarang sengaja saya pelihara. Saya bangga bisa mengupas kelapa menggunakan linggis yang posisinya dibalik seperti ini. Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk mengupas lima butir kelapa yang sudah tua ini. Bongkahan sepetnya segera kumpulkan di dekat tiang kandang ayam, agar kelak bisa dipakai untuk membuat perapian. Butiran kelapa yang sudah terkupas lantas saya pecahkan batoknya, saya buang airnya karena kelapa tua seperti ini airnya sudah tidak manis lagi.

Saya baru saja selesai mengembalikan linggis ke tempatnya semula ketika bapak muncul dari arah sungai.

"Ngapain, To?"
"Ini habis ngupas kelapa, Pak."
"Ayok jalan-jalan ke kebun, nengok kayumu."
"Inggih, Pak."

Saya berjalan di samping bapak menuju ke arah timur rumah. Sebelum mencapai kebun dimaksud, bapak berhenti di bagian belakang rumah kandang ini.

"Jadi gini To, pekarangan rumah sampai batas sini ini jatahnya adikmu Titik. Kalian yang anak-anak lanang jangan mengharap bagian tanah dan rumah sampai bagian ini yo."
"Inggih Pak. Saya mengerti."
"Nah, mulai batas ini sampai nanti ketemu parit, itu adalah masih haknya bapak sama ibumu," ujar bapak sembari meneruskan langkah.

Kami melangkah melewati parit-parit diantara gundukan tanah yang tampak kosong padahal di dalamnya adalah tanaman kunyit yang memang sedang "tidur" ketika musim kemarau. Kunyit tersebut tahun depan siap dipanen.
Tanaman kunyit sedang tidur di gundukan tanah itu

Tibalah kami pada parit kering yang melintang di depan kami, dari sisi selatan ke sisi utara menuju sungai. Di sebelah timur parit ini berdiri pohon durian.

"Nah mulai dari parit ini sampai pinggir sungai sana juga sudah haknya adikmu Titik. Tanah ini bapak tukar dengan tanah depan rumah punya adikmu Titik yang sekarang bapak wakafkan untuk bangunan mushola itu."

Saya memandangi bentangan lahan di depan kami. Lahan ini berukuran 300 m2 dan ditumbuhi beragam kayu keras, mulai dari sengon laut, waru dan beberapa jati. Sebelah utara dan timur lahan ini berbatasan dengan sungai, sedangkan sebelah selatannya adalah pekarangan lek Kasnidin. Saya manggut-manggut mendengar konsep tukar guling bapak.

Sungai di bawah rumah bapak
"Ayuk sekarang ke pekarangan lek Kasnidin, lihat kayumu."
"Inggih, Pak."

Posisi pekarangan lek Kasnidin lebih tinggi dibandingkan lahan yang kami lewati. Saya beberapa kali harus jalan di depan dan menarik tangan bapak agar beliau bisa menaiki lereng pekarangan tersebut. Diabetes yang diderita bapak sejak sepuluh tahun yang lalu menggerogoti syaraf lututnya sehingga bapak tidak selincah dulu lagi.

"Nah itu To, kayumu yang kamu beli sepuluh tahun lalu."
"Wah, sudah gede juga tu pak, bisa buat ningkat rumah, hahaha.."
"Iyo.. Harusnya kelima-limanya besarnya sama. Tapi jangan marah yo le, yang dua dijual lagi oleh lek Kasnidin tanpa seijin bapak. Terus sama dia ditukar dengan yang lebih kecil."

Saya terdiam mendengar kabar tersebut. Saya amati lima batang kayu jati yang berdiri di pekarangan lek Samidin ini. Tiga batang pertama usianya mungkin sudah 25 tahun, diameternya sekitar 40 centimeter. Dua batang sisanya masih agak kecil, berdiameter sekitar 30 centimeter. Saya jengkel sekali dengan ulah lek Kasnidin ini.

Suatu hari sepuluh tahun yang lalu bapak datang ke Jakarta menengok kami. Saya ingat waktu itu bapak baru saja pensiun. Beliau bercerita bahwa ada pohon kayu jati yang mau dijual milik lek Kasnidin. Ada lima batang harganya tiga juta rupiah. Pohon tersebut boleh dipelihara sampai kapan saja. Saya setuju untuk membeli pohon kayu tersebut, meskipun sebenarnya saya belum tahu mau saya apakan. Kini batang kayu itu kelima-limanya harusnya sudah bisa ditebang untuk dijadikan perabotan atau kusen rumah. Namun apa mau dikata yang dua batang belum siap ditebang, masih harus menunggu beberapa tahun lagi.

Dua bulan yang lalu Titik memang bercerita pada saya bahwa ada tetangga curang, kayu sudah dijual ke orang lain kok dijual lagi. Saya tidak menyangka jika kayu tersebut adalah kayu saya yang saya beli sepuluh tahun yang lalu.

"Inggih Pak, nggak apa-apa. Saya yakin lek Kasnidin pasti sedang kepepet sampai bertindak begitu," ujar saya sembari menahan rasa jengkel.
"Iyo Le, sudahlah, sewu dalaning rejeki, seribu pintu rejeki, nggak usah kawatir."
"Inggih, Pak."
"Ayo sekalian kita lebaran ke rumah lek Kasnidin."

Saya kian terhenyak mendengar ajakan bapak. Saya sama sekali tidak terpikir untuk berlebaran ke orang yang telah berbuat curang kepada saya. Tidak demikian dengan bapak.

Kampung Makasar, 20 Agustus 2013 22:07:44 WIB.
Post a Comment