Thursday, August 29, 2013

Seat 1A



Telepon dari salah satu Kepala Sub Direktorat tempat saya bertugas itu datang dalam perjalanan pulang saya dari Cicalengka, Jawa Barat seusai survey calon lokasi ICV. Dia memberitahukan bahwa besok pagi Dirjen Pajak bersama Sesditjen akan mendampingi Menkeu bersama suami meninjau lokasi bencana di kota Padang, Sumatera Barat. Saya diminta segera menghubungi staff protokoler untuk koordinasi lebih lanjut. Saya segera menelepon staff dimaksud. Isi pembicaraan kami singkat saja. Roni, staff protokoler itu hanya memberitahu bahwa saya harus sudah siap di terminal II Bandara Sukarno Hatta pukul 04.30 WIB untuk mengambil tiket penerbangan ke Padang. Tiket kembali ke Jakarta belu
Eks KP. PBB Padang

Kantor Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumbar. Lantai dasarnya amblas.

Ruko ini lantai dasarnya amblas, yang tampak sekarang adalah lantai dua.

Mengais sisa reruntuhan

Menyelamatkan yang tersisi

Kendaraan pun tak luput dari gempa

Hotel Ambacang

Alat berat sedang mengeruk reruntuhan

m ada di tangan, pun juga rencana penginapan. Kemungkinan besar rombongan tidak akan menginap.
Gempa bumi yang melanda daerah Sumatera Barat dan sekitarnya dua hari lalu memang menyisakan keprihatinan. Kota Padang porak poranda. Televisi tak henti-hentinya menayangkan suasana kota yang terkena efek gempa. Miris melihatnya.
Sesungguhnya saya juga tak begitu siap mental dengan apa yang bakal saya lihat di sana. Bayangan buruk tentang suasana provinsi Aceh paska bencana tsunami beberapa tahun silam menyelimuti benak saya.
Pukul 04.15 WIB saya sudah tibai pintu terminal II F bandara Sukarno Hatta. Roni sudah ada di situ. Segera saya sambar tiket pesawat itu, lantas saya langsung menuju ruang tunggu. Saya tidak membawa tas baju ganti, hanya tas berisi seperangkat kamera.
Begitu panggilan boarding terdengar, saya langsung memasuki pesawat. Saya duduk di kelas Ekonomi, tentu saja, seat 9C. Di seberang tempat duduk saya terlihat sekelompok orang mengenakan jaket oranye dan topi atribut sebuah partai yang diketuai oleh seorang pensiunan jenderal. Ah, apa pula urusan mereka dengan bencana ini. Tak lama, di rombongan penumpang yang terakhir masuk pesawat, masuklah Menkeu beserta suami, Dirjen, Sesditjen dan tiga ajudan. Pesawat penuh tak menyisakan satu tempat duduk kosong.
Pukul 07.00 WIB pesawat mendarat dengan mulus di Padang. Di bandara Menkeu menyempatkan diri meninjau posko bantuan bencana dan memberikan arahan kepada staff Bea dan Cukai yang bertugas di sana. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke kota Padang.
Kerusakan bangunan, baik rumah tinggal maupun perkantoran dan pusat perbelanjaan mulai tampak. Rombongan kami berhenti di eks KP. PBB Padang yang lokasinya paling dekat dari bandara. Kantor ini memang sdh tak berpenghuni semenjak KP. PBB digabung ke KPP tahun 2009 lalu. Kondisinya parah, temboknya retak di sana sini. Beberapa bagian plafon runtuh ke lantai.
Perjalanan dilanjutkan ke kantor Pelayanan Pendapatan Propinsi Sumbar. Bangunan dua lantai ini kondisinya amat parah. Tembok lantai dasar bagian belakang runtuh, rata dengan tanah sehingga lantai duanya mepet ke lantai dasar. Tetapi pergolatidak runtuh, sehingga jika dilihat dari samping bangunan ini seperti mendongak. Menurut informasi tidak ada korban jiwa sama sekali karena gempa terjadi setelah jam kerja usai. Saya tak dapat membayangkan jika gempa melanda saat jam kerja.
Berturut-turut kami mengunjungi kantor Samsat, KPP. Padang, KPBC dan terakhir Kanwil DJP Sumbar dan Jambi. Semua bangunan yang kami kunjungi mengalami kerusakan meski tak begitu parah. Gempa Padang memang unik menurut saya. Gempa itu seperti memiliki jalur, tak semua bangunan rusak. Yang rusak serasa berada di sebuah garis maya.
Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Padang
Pukul 16.00 WIB kunjungan usai. Rombongan kembali ke bandara. Setiba di bandara saya baru teringat, saya belum memegang tiket pulang. Saya segera menghubungi mas Hery, sahabat saya yang bertugas di sini dan sedari tadi menjadi sopir saya.
"Lho, mas Slamet belum pegang tiket?"
"Belum mas, maaf saya juga lupa ngasih tahu."
"Waduh, sebentar ya... Soalnya semua pesawat penuh ini."
Saya was-was. Kemungkinan terburuk segera saya antisipasi, menginap di Padang. Kebetulan rumah dinas Kakanwil dijadikan penginapan sementara bagi para pegawai yang kehilangan tempat tinggalnya akibat gempa.
Setengah jam menjelang jadwal keberangkatan pesawat, mas Hery mendatangi saya.
"Ini mas tiketnya. Tapi tidak atas nama mas Slamet ya, soalnya hasil beli dari penumpang lain yang batal berangkat."
Saya terima tiket itu dengan rasa syukur. Padang - Jakarta GA-sekian-sekian, seat 1A, business class. Saya kaget.
"Mas Hery, yang bener aja, masak saya naik kelas bisnis, udah gitu duduk di paling depan lagi."
"Iya, Mas. Adanya tinggal itu. Itu aja orangnya sudah sempet ceck in."
Waduh, cilaka. Apa kata Dirjen dan Menteri nanti? Saya segera konsultasi dengan para ajudan mengenai kondisi ini. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Sialan.

"Udah Mas, duduk aja di situ, enak lho..."
"Iya Mas, saya aja yang nganter Ibu kemana-mana belum pernah naik kelas bisnis."
"Plis, tukeran dong, kalian deh yang duduk di bisnis, aku dui belakang aja," rengek saya.
Mereka bergeming karena alasan yang menurut saya logis. Wajah mereka sudah amat dikenali oleh para atasannya. Akan menjadi sebuah tragedi jika mereka ketahuan duduk di kelas bisnis karena memang jatah kami adalah kelas ekonomi. Apalagi para atasan mereka duduk di seat 3A, B, C dan D.
Panggilan boarding telah tiba. Saya segera keluar dari ruang VIP Bandara Padang paling awal. Jaket tipis dan topi gunung yang untungnya saya bawa segera saya kenakan. Saya naiki tangga pesawat itu dengan hati risau.
Tempat duduk itu berada di sayap kiri, posisinya paling depan, mepet dengan jendela. Joknya amat lebar untuk ukuran tubuh saya. Semua penumpang kelas ekonomi sudah masuk. Inilah saat-saat yang mendebarkan bagi saya. Satu per satu penumpang kelas bisnis memasuki pesawat. Tiga wajah ajudan terlihat, pertanda di belakang mereka adalah giliran atasannya. Saya segera menurunkan topi saya, nyaris menutupi seluruh wajah saya, mengancingkan jaket, dan berpaling ke kiri melihat ke arah jendela. Pramugari sigap membagikan handuk dingin dan minuman pembuka. Saya sambar cepat-cepat. Pun juga ketika makanan dihidangkan. Saya memakannya sembari tetap menoleh ke arah jendela. Hingga pesawat ini landing di Jakarta.

Warung Soto Ceker samping kantor, 29 Agustus 2013 07:30:55 WIB.
Post a Comment