Monday, September 2, 2013

Kenek vs Tukang Batu

Suatu hari, kakak sepupu saya, datang mengeluh kepada saya.

"Gimana ini Ri, aku pengin cari kerja."
"Lho, sampeyan kan sudah kerja to Kang?"
"Iyo, tapi masak jadi kenek melulu. Pengin jadi tukang batu lah. Biar gajiku naik."
"Oalah... "
"Iyo, jadi kenek sengsara, Ri. Disuruh-suruh sama tukang melulu."
"Emang kalo jadi tukang batu nggak disuruh-suruh lagi, Kang?"
"Ya masih lah. Tapi yang nyuruh kan mandor."

Saya hampir tergelak jika tidak ingat sedang berbicara dengan kakak sepupu. Bagi saya logika yang dia pakai barusan amat menggelikan.

"Selain nggak mau disuruh-suruh tukang batu, apa keberatan sampeyan jadi kenek, Kang?"
"Jadi kenek gajinya kecil, Ri. Kerjanya juga berat, ngaduk semen lah, ngangkat adukan lah, pasang steiger lah.. Pokoknya berat, deeeh.."
"Emang kalo jadi tukang batu kerjanya ringan ya?"
"Enggak juga sih, tapi kan gajinya gede."
"Bukannya gedean mandor, Kang?"
"Iya sih, tapi aku kan nggak bisa jadi mandor."
"Lho, kenapa?"
"Kan aku kenek, nggak bisa lah langsung jadi mandor, harus jadi tukang batu dulu."
"Trus sampeyan sudah merasa bisa jadi tukang batu?"
"Bisa lah... Orang kerjaannya gitu-gitu doang. Keliatan mata."

Kali ini saya agak kaget. Saya menarik bangku yang saya duduki, saya dekatkan ke meja teras tempat kami berbincang sore itu. Istri saya datang menyajikan teh dan pisang goreng.

"Pakde nanti nginap di sini, kan?"
"Enggak Yun, aku mau balik ke kontrakan."
"Lho besok kan Minggu, dhe. Kerjaan libur, kan?"
"Libur sih, tapi aku mau keliling cari kerjaan tempat lain. Mau nglamar jadi tukang batu."

Istri saya tidak meneruskan obrolannya. Dia kembali masuk ke rumah membawa nampan yang telah kosong.

"Ayo Dhe, diminum tehnya."
"Iyo, Ri. Enak ya jadi kamu ini."
"Enak gimana, Dhe?"
"Yo enak lah. Kerja jadi PNS, gaji gede, kerjanya di tempat ber-AC, nggak mikirin mau jadi apa.. Wis pokoke enak lah..."

Oalah....Pakdhe.. Pakdhe. Kakak sepupu saya ini rupanya diam-diam mengamati saya. Dia tidak tahu bahwa di kantor saya ribuan orang tiap hari bergelut dengan ambisi. Tiap hari bertarung demi kursi. Tiap hari mengalami gundah gulana hati, sama seperti yang dia rasakan tadi.

Teh dan pisang goreng itu silih beranti kami nikmati. Sesekali obrolan kami harus kami hentkan sejenak ketika ada pesawat terbang melintas persis di atas rumah saya. Ketika senja akhirnya menjelang, kaka sepupu saya pamit, pulang ke kontrakannya di daerah Teluk Gong. Saya memandangi punggungnya yang lenyap di kelokang gang. Dalam hati saya ngunandika, kakak sepupu saya ini beruntung punya teman berbagi keluhannya. Tidak demikian dengan saya.
Padma Hotel, Bali. 02 September 2013 09:26:16 WIT
Post a Comment