Monday, September 2, 2013

(Tidak) Mudah jadi Siapapun

"Met...mana fotoku... Percuma ah, kamu foto melulu gak pernah dikirim."
"Met, kalo moto yang bagus dong, jangan pas merem."
"Met, nanti aku difoto sama bu Mentri ya... Awas lho, bikin yang bagus."

Sederet kalimat itu, dengan beragam diksi, berintonasi sama, sebuah permintaan, bernada perintah, bahkan sedikit ancaman. 

"Met, enak ya jadi kamu. Hobi kok jadi kerjaan."
"Met, enak ya kamu. Keliling Indonesia dibayarin negara."
"Met, enak ya kamu. Nggak pindah-pindah."

Yang barusan kalimat manis, bernada sindiran.

Delapan tahun jadi fotografer (resmi) institusi membuat posisi saya menjelma menjadi figur publik. Kepala Seksi saya bahkan kalah tenar dengan saya. Suatu hari kami berdua menunggu jemputan mobil di lobi kantor. Dia tidak mau menunggu persis di depan pintu keluar, mengajak saya minggir ke tempat yang agak tersembunyi.

"Sini aja Mas. Males nunggu di situ, pasti banyak pejabat nyapa mas Slamet.."

Saya kaget mendengar kalimat itu. Memang tidak bisa saya pungkiri, meskipun wajah nggak ganteng saya sering tersembunyi di balik bodi kamera, tak terhindarkan fakta bahwa saya memang lebih sering berinteraksi dengan "kalangan atas". Tadinya saya abai, saya berpikir, ah mana kenal orang-orang itu dengan saya. Wong saya juga enggan ber-haha-hihi dengan mereka. 

Kenyataannya beberapa orang mengenali saya dengan baik. Peristiwa ini terjadi ketika Dirjen saya mengundang para mantan pejabat DJP dan Kemenkeu untuk berbuka bersama sebulan yang lalu. Wanita yang begitu termasyur di negeri ini menyapa saya sembari mengulurkan tangannya, mengajak saya bersalaman. 

"Pak, apa kabar? Masih motret aja."

Dia adalah Sri Mulyani indrawati, mantan Menteri Keuangan kami. 

Profesi ini juga melambungkan saya ke titik puncak sebuah karir, pengendali. Saya berhak berjalan di depan presiden. Saya berhak mengatur barisan orang-orang yang akan saya foto. Saya boleh hilir mudik di sebuah acara ketika yang lain harus duduk. Saya berhak menentukan lokasi pemotretan, dan sebagainya. Nikmat memang jadi pengendali itu, meski sering dihadapkan pada kepelikan.

Hasil foto saya tidak bebas dari kritikan, bahkan kadang cercaan. Saya juga sering menghadapi dilema ketika harus membagi jadwal pemotretan atau memilih momen pemotretan. Posisi saya terkadang amat sulit, bahkan pelik. Saya bahkan sering merasa buntu. Hanya kesadaran akan posisi saya yang membuat saya legawa bahwa ini adalah tantangan yang tak bisa saya hindari.

Mutasi, kehebohannya selalu sama. Bahkan merembet ke pihak-pihak yang jelas tidak terlalu punya kepentingan seperti saya. Hajatan ini, seperti pernah saya tuliskan sebelumnya, mengalahkan isu kenaikan gaji. Efeknya sangat beragam dan kontras. Bahagia, bagi yang mendapat jabatan sesuai posisinya. Kecewa bagi yang tidak mendapatkan jabatan sesuai haknya atau setidaknya tidak sesuai dengan keinginannya. Saya sedang membayangkan bahwa saat ini ratusan orang di kantor saya sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, gara-gara mutasi. Sebagian orang memang memandang jabatan terlalu mulia sehingga layak diperjuangkan untuk memperolehnya. Sebagian lagi memandangnya sebagai sebuah hak, sehingga ketika tidak mendapatkannya merasa terbuang atau tak terpakai oleh institusi. 

Saya hanya membayangkan betapa sulitnya menjadi orang yang berada di posisi mirip saya; menjadi pengendali sebuah mutasi.

Kampung Makasar, 31 Agustus 2013, 12:09:52 WIB.
Post a Comment