Sunday, September 15, 2013

Boeing vs Airbus



Seharusnya penerbangan saya dari bertugas seminggu di Bali ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Betapa tidak, seminggu berdinas di Bali, menginap di hotel yang menyajikan pemandangan aduhai terutama di area kolam renangnya, pekerjaan beres tak ada halangan, dan ketika boarding saya mendapati pesawat yang akan menerbangkan saya adalah Boeing 777-300 ER. Pesawat ini adalah unit ke dua dari tiga pesanan Garuda Indonesia, yang baru tiba bulan lalu. Bodinya masih kinyis-kinyis. Interiornya amat mempesona. Ada first class, kelas baru di atas business class, dimana tersedia layanan chef on board. Penumpang kelas ini bisa memesan makanan yang langsung dimasak di dalam pesawat. Wuih, nggak terbayang jika tabung gasnya meledak. Bahkan ke depan, khusus kelas ini juga menyediakan layanan koneksi internet berbasis wi-fi. Lah, apa ini tidak akan mengganggu komunikasi penerbangan ya?

Bangku pesawat ini masih beraroma pabrik. Konfigurasi bangkunya 3-3-3. Saya diberi seat 32 H. Sebelah kanan saya ternyata kosong, sedangkan di dekat jendela duduk seorang pria paruh baya. Cocok, pikir saya.

Pesawat berangkat tepat waktu. Hidangan makanan dan minuman selalu menggugah selera saya, ditambah ini memang sudah jam makan malam. Ketidaknyamanan mulai terasa ketika layar monitor di depan saya tidak bisa memainkan sajian hiburan on demand. Saya segera panggil pramugari berpostur semampai itu. Rika namanya. Dengan gesture yang sopan, dia membantu saya. Tak berhasil, dia lantas melapor ke teknisi. Tak lama dia kembali dengan senyum tetap tersungging. Jawabnya amat sederhana.

"Maaf Pak, ada gangguan di jalur ini. Sistem sedang di-reset, mohon sabar menunggu."

Saya anggukkan kepala, tanda saya menerima penjelasan tersebut. Majalah bulanan Garuda Indonesia lantas jadi pilihan saya menamani sisa perjalanan yang masih 45 menit lagi. Lampu kabin terlalu redup sehingga saya tekan saklar lampu baca. Sekali, dua kali, tiga kali tekanan saya tidak membuahkan reaksi apa-apa. Lampu baca tetap tak menyala. Pramugari yang sedang membereskan sajian makan malam saya pintai bantuan lagi. Kali ini usianya lebih senior dibanding Rika. Saya tidak tertarik melirik papan nama di dada kirinya. Sigap dia menekan-nekan tombol yang sama. Tetap bergeming, tak menyala. Tangannya berpindah menekan saklar seat sebelah kanan saya. Clap, lampu baca untuk penumpang tengah menyala dengan sempurna.

"Maaf Pak, bohlam lampu baca seat Bapak rupanya padam. Saya akan lapor teknisi."

Saya tidak anggukkan kepala kali ini. Saya memilih segera merebahkan kursi, mencoba memejamkan mata. Dan seperti biasa, hanya mata saya saja yang terpejam, tapi pikiran saya tetap terjaga. Saya memang paling susah tidur di sebuah penerbangan. Penerbangan Jakarta - Sorong selama 5 jam saja tak sanggup membuat saya terpejam.

Suara desau angin itu terdengar sedemikian keras tepat di bawah tempat duduk saya. Saya segera membuka mata, nanar, kaget. Rupanya palka roda pendaratan telah dibuka, tanda sebentar lagi pesawat akan mendarat. Saya merasa suara ini terlalu bising, jauh lebih bising dibandingkan  dengan pesawat setipe, Airbus A330-200 yang saya naiki sebelumnya. Pendaratan lantas terjadi dengan segera. Badan saya nyaris terpental ketika pesawat touch down. Ough, hard landing, sesuatu yang harusnya tidak terjadi di cuaca bagus seperti ini, dengan pesawat badan lebar, dan di bandara Soekarno Hatta yang kualitasnya termasuk bagus. Sejurus kemudian pilot mengumumkan bahwa pesawat tidak akan parkir di garbarata. Ah....mengesalkan, karena pasti perjalanan ke terminal kedatangan akan disambung dengan bus. Rasanya gimana gitu, habis naik pesawat kok naik bus, kayak mudik lebaran saja. Ditambah lagi hand carry saya lumayan berat, tas kamera seberat 7 kilogram dan tentengan tas plastik berisi oleh-oleh.

Pilot sudah mengumumkan bahwa pintu boleh dibuka, tetapi ujung barisan penumpang tak bergerak juga. Para penumpang lantas menggumankan kalimat bernada protes. Lama kejadian ini berlangsung, sampai-sampai beberapa penumpang memilih duduk kembali. Setelah 10 menit menunggu akhirnya pintu bisa dibuka. Tak ada penjelasan apapun dari awak penerbangan atas insiden ini.

Ketika saya tiba di pintu keluar, saya sempatkan menyapa pria berjas yang merupakan manajer awak penerbangan.

"Sampaikan ke Boeing ya Pak, suruh belajar sama Airbus."

Teras Rumah, 14 September 2013, 11:04:11 WIB.
Post a Comment