Sunday, September 15, 2013

Duma Dumi - Cerita tentang Seekor Kucing



Hari telah menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika saya tiba di rumah dari perjalanan dinas di Bali minggu lalu. Pesawat saya mendarat pukul 20.15 WIB, tapi bus Damri yang akan saya tumpangi tak segera datang. Pukul 21.30 WIB akhirnya bus itu tiba. Perjalanan selanjutnya amat menyiksa. Tol dalam kota macet parah. Setelah turun di Garuda Taman Mini, saya melanjutkan perjalanan dengan jasa ojek.

Nyonya saya sudah saya pesan agar pintu depan tak usah dikunci. Saya tidak enak ketika harus membangunkan dia malam-malam begini. Toh selama ini daerah Kampung Makasar, tempat saya tinggal, aman-aman saja. Setelah menurunkan tripod, saya membuka pintu. Langkah saya surut ke belakang. Saya kaget bukan alang kepalang. Dumi, kucing yang setiap hari menghuni teras rumah saya, berlari keluar dari dalam rumah. Tak biasanya dia berani masuk ke dalam rumah. Batas wilayahnya hanya sampai teras depan dan gang samping rumah. Didikan itu berhasil saya lakukan dengan cara agak kejam. Selama ini jika dia nekad masuk rumah segera saya halau dengan melemparkan sapu lidi kepadanya. Jitu, dia tak lagi berani menginjak meski sebatas ruang tamu.

Suara pintu tadi rupanya membangunkan nyonya saya. Dalam sisa kantuknya, dia menyambut saya yang repot oleh bawaan. Di punggung saya masih tersandang tas kamera. Tangan kanan saya menyeret travel bag berwarna hijau, dimana di atasnya saya gantungi tas plastik berisi oleh-oleh. Tangan kiri saya menenteng tripod kamera.

"Macet ya, Pak?"

"Iya Ma, maklum malam Sabtu. Anak-anak sudah tidur?"

"Sudah, pada kecapekan. Kakak pulang magrib, ada ekskul. Adek les sampai sore."

Saya lantas menuju kamar belakang. Anak sulung saya, Abiiyyu, sudah tergolek. Saya usap kepalanya dan saya cium pipinya. Demikian juga dengan anak bungsu saya, Abyan. Dia tidur dengan mamanya di kamar tengah. Saya lantas kembali ke ruang tengah. Nyonya saya sedang membongkar travel bag yang 95% isinya adalah pakaian kotor.

"Itu Dumi kok tadi masuk rumah, Ma?"

"Iya, Pak. Seminggu ini Dumi masuk rumah terus. Kerjanya mbuntutin kakak."

"Kok nggak diusir, to?"

"Pada nggak tega, Pak. Kasihan."

Sejarah keberadaan kucing ini lumayan panjang. Adalah anak bungsu saya yang memulainya. Syahdan ada seekor kucing betina berwarna krem yang terbuang dari induk semangnya, tetangga kami. Abyan sigap menampung kucing itu, bahkan sebuah nama lantas dia sematkan kepadanya, Duma. Saya tidak tahu makna nama itu. Jadilah teras rumah kami terhuni olehnya. Suatu hari Duma melahirkan 3 ekor anak. Yang satu tak panjang umurnya. Yang satu lagi diadopsi oleh teman sekolah Abyan yang tinggal di komplek perumahan TNI AU Halim Perdana Kusuma. Tersisa satu, itulah yang dipelihara induknya.

Ketika musim kawin berikutnya, Duma hamil lagi. Anak satu-satunya itu dia sapih dengan segera. Setelah disapih dia segera pergi meninggalkan induknya yang tetap menjadi penghuni teras rumah saya. Hanya sesekali saja dia berkunjung ke teras kami. Dia menjelma menjadi kucing betina muda yang kurus perawakannya. Mukanya tirus, sorot matanya memelas. Warna bulunya kusam. Kami serumah segera mengusirnya ketika dia berlama-lama di teras.

Suatu siang tibalah saatnya Duma melahirkan anaknya. Dia melakukan persalinan di rak baju kamar tengah, kamar tidur Abyan. Kami serumah panik, tak tahu harus berbuat apa. Kakak sepupu saya, Kang Saidi, yang kebetulan sedang merenovasi plafon teras rumah saya sigap bertindak. Duma dan ketiga bayinya dipindahkan ke rak peralatan mobil di teras rumah. Dibuatkannya kandang dari kardus bekas bungkus mie instant, tak lupa dialasinya dengan kain handuk bekas. Masalah rupanya belum usai. Saya juga baru tahu, bahwa kucing yang sedang mengasuh anak mempunyai kebiasaan memindahkan anak-anaknya ke tempat yang berbeda-beda. Celaka.... Duma memboyong anak-anaknya ke dalam rumah. Di bawah tempat cuci piring, di lemari pakaian kamar saya, di bawah tangga, dan di banyak tempat lagi. Tetangga sebelah juga mulai mengeluh, Duma mulai suka mencuri lauk dan mengacak-acak dapur mereka.

Kami sekeluarga akhirnya berembug. Abyan bersikukuh tetap memelihara Duma dan ketiga anaknya. Saya, nyonya dan Abiyyu sepakat membuang kucing itu ke pasar Pos Lama. Tempat yang kami harapkan mampu menyediakan makanan buat mereka. Dengan air mata berlinang, akhirnya Abyan rela melepaskan kucing itu. Di suatu siang, dengan dibungkus karung beras, Duma dan ketiga anaknya kami buang di tempat sampah pasar Pos Lama.

Teras kami kembali sunyi, bebas dari kekacauan. Anak Duma yang tadinya suka menyambangi induknya, sesekali masih mendatangi teras. Nyonya saya rupanya jatuh belas kasihannya kepada kucing itu. Dia lantas suka memberikan makan kepadanya. Seperti yang sudah saya duga, kucing itu lantas menggantikan posisi Duma.

Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan kucing ini. Tampangnya tidak manis. Tapi lama kelamaan saya suka padanya. Tingkahnya lucu. Dia amat senang memainkan benda-benda yang bergelantungan. Ketika saya lemparkan mobil-mobilan kecil, dia berguling-guling memainkan benda itu. Juga ketika dikasih kelereng. Lumayan menghibur, pikir saya. Bulunya pun lama-kelamaan berwarna krem terang, tak bulukan lagi. Mukanya juga cerah, sorot matanya tidak sayu lagi. Saya namai dia Dumi, kependekan dari Duma Mini.

Suatu malam, kami sekeluarga sedang ngriung di teras rumah. Di lantai teras Dumi sedang berguling-guling mengejar cicak kecil. Kami terkekeh-kekeh dibuatnya. Kemanapun cicak itu lari, Dumi sigap mengejar. Dia tangkap, lantas dia lepaskan lagi. Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara meong-meong. Kami terperanjat. Seekor kucing betina berlari dengan muka yang amat cerah mendatangi kami. Duma..... Tanpa permisi dia langsung menggosokkan badannya ke kaki saya. Ah... Kami semua terdiam, nyaris tercekat. Perasaan saya campur aduk, antara rasa bersalah sekaligus bingung, mau diapakan Duma ini.

Kami berembug kembali. Abyan pengin Duma diterima lagi. Kami bertiga sepakat posisi Duma sudah diganti Dumi. Syukurlah Abyan mau menerima kesepakatan ini. Duma segera kami usir dari teras. Dia tak bisa berbuat banyak. Dia tahu diri, tempatnya bukan di sini lagi.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Dumi amat patuh dengan aturan saya, tidak boleh menginjak area dalam rumah. Kami menyediakan makanan kucing buatnya. Bulunya kian kinclong. Di keempat kakinya muncul corak belang halus. Dia telah menjelma menjadi kucing betina remaja yang menyenangkan.

Pagi tadi saya bangun kesiangan. Ketika saya beranjak dari tempat tidur, saya kembali dikagetkan oleh keberadaan Dumi di depan pintu kamar. Saya segera mengambil sapu lidi, dan melemparkannya ke Dumi.

"Kok ada Dumi nggak diusir sih, Ma?"

"Hehe... Bapak aja yang ngusir deh. Mama nggak tega."
Saya tak berkata apa-apa lagi. Secangkir kopi putih yang dibuat nyonya saya segera saya bawa ke teras. Dumi sedang duduk di rak sepatu. Sembari menulis "Boeing vs Airbus", saya kembali ngunandika. Saya sering diposisikan sebagai "orang galak" di rumah ini. Ketika dua anak saya berantem, sayalah yang disuruh melerai. Teman-teman anak saya juga surut langkah, tak jadi main ke rumah, ketika melihat keberadaan saya di teras rumah. Kadang saya menikmati posisi ini tapi sering juga tak nyaman dibuatnya.

Bagi saya disegani jauh lebih penting dibandingkan dengan ditakuti, meski hanya oleh seekor kucing.

Sekian.

Bengkel Motor AHASS Cililitan, 14 September 2013, 15:01:57 WIB.
Post a Comment