Thursday, September 19, 2013

Gendhon, Mijo, Tobey


Nama, sebuah kata atau rangkaian kata yang tersemat ke tiap manusia. Rasanya saya belum pernah mendengar ada orang tak punya nama. Semua manusia punya nama, sependek apapun itu. Teman kuliah saya ada yang namanya hanya satu kata, terdiri dari tiga huruf, Edy, sudah itu saja. Ada lagi yang terdiri dari lima kata, I Gede Komang Chahya Bayuantakusuma. Saya sampai harus membuka aplikasi SIKKA untuk mengeja namanya. Itulah uniknya nama kita.

Ada satu lagi nama panggilan, orang Jawa bilang nama "paraban". Yang ini lebih unik lagi. Nama panggilan biasanya ada hubungan dengan si pemilik nama tapi kadang juga tidak ada hubungannya sama sekali. Hubungan itu bisa karena kemiripan pengucapan, bisa juga karena hal lain. Nyonya saya namanya Nurul Kasmariah, dipanggil Uyun, masih mirip. Adik ipar saya namanya Surya Wahyudi, karena sakit-sakitan diberi nama panggilan Slamet, tetapi lebih tenar dipanggil Mamet. Tetangga belakang rumah mertua saya, seorang ibu-ibu, namanya Tri Wahyuni, dipanggil "Jentrit". Blas, sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengannya.

Saya, Slamet Rianto, punya banyak nama panggilan. Yang paling umum tentu saja panggilan Slamet dan Rianto. Tapi tunggu dulu, waktu kecil saya dipanggil Gendhon oleh saudara-saudara dekat saya karena katanya saya dulu gemuk, mirip gendhon, ulat yang biasa hidup di daun nangka. Asem banget ya... Kelas 3 SD, ada teman sekolah saya yang meninggal mendadak karena sinus, namanya Mijo. Entah kenapa kakak sepupu saya lantas memanggil saya dengan nama Mijo. Untunglah dua nama terakhir itu sekarang sudah punah.

Suatu hari, ketika saya masih duduk di bangku kelas 1 SMA 3 Surakarta, tiba-tiba saya mendapat nama panggilan baru. Adalah teman sekelas saya, Irawan Teguh Santoso, yang menciptakan nama itu. Ceritanya begini, waktu itu kami baru saja mendapat pelajaran Bahasa Inggris. Hari itu setiap siswa disuruh membaca artikel pendek yang ada di buku paket. Tibalah giliran saya. Artikel yang saya harus baca topiknya tentang Danau Toba. Saya baca dengan gempita, penuh percaya diri. Menurut saya, artikulasi dan ejaan saya benar semua, sampai kemudian seisi kelas tertawa ketika saya melafalkan "Lake Toba" dalam ucapan yang menurut mereka lucu. Katanya saya mengucapkannya dengan lafal "Laik Tobey". Sejak saat itulah saya dipanggil "Tobey" oleh seluruh teman SMA saya, hingga kini. Nama Tobey amat tenar. Tak hanya teman-teman SMA saja yang memanggil saya dengan nama itu, tapi juga teman sekantor yang berteman dengan teman SMA saya.

Bapak saya bilang bahwa "asma kinaryo japa", nama itu adalah doa. Mungkin itulah yang melatarbelakangi beliau memberi nama Slamet kepada saya. Tak apalah, saya tidak pernah mempunyai persoalan dengan beragam nama panggilan itu. Bagi saya, nama hanyalah nama, tidak lebih.

Hotel Atria Serpong, 18 September 2013, 15:48:27 WIB.
Post a Comment