Saturday, September 21, 2013

Home Base - Satu dari Beberapa Kisah Awal Meniti Karir di KPP. Baturaja


Tahun ke tiga berdinas di KPP. Baturaja saya mulai risau. Banyak hal memenuhi pikiran saya. Melanggengkan hubungan dengan calon istri, melanjutkan sekolah, beli sepeda motor, beli rumah, dan yang pasti pengin cepat pindah dari sini. Empat keinginan pertama bisa saya tunda. Saya sudah punya calon istri, tinggal mencari modal nikah. Memiliki sepeda motor bisa saya tunda, toh saya diberi sepeda motor dinas Yamaha L2 Super jatah Kepala Seksi saya. Membeli rumah tidak sederhana, apalagi saya tidak ingin hidup saya berakhir di kota ini. Melanjutkan kuliah paling realistis ya daftar di Universitas Terbuka, karena di Baturaja saat itu tidak ada perguruan tinggi. Adanya cuma virtual perguruan tinggi, ya UT itu. Keinginan terakhirlah yang amat mengganjal pikiran saya.

Betapa tidak. Saya merasa mentok berkarir di sini. Tak ada apa-apa yang bisa membuat saya bersemangat kerja di sini. Penghasilan saya waktu itu sebesar 400.000 rupiah per bulan. Meski saya bertugas di seksi basah, PPN dan PTLL, saya tidak punya kesempatan untuk mendapat "uang tambahan" karena memang potensinya nyaris ada. Tapi itu bukan permasalahan utama. Toh dengan penghasilan segitu saya masih bisa menyisihkan sedikit buat modal mudik.

Masalah saya cuma satu, saya pengin bekerja dekat dengan orang tua, sehingga jikapun saya tidak bisa membalas budi baik mereka dengan materi, saya bisa sering-sering menengok mereka. Saya memang setahun hanya bisa pulang dua kali, mengingat sebatas itulah kemampuan keuangan saya. Saya jadwalkan kepulangan setiap lebaran dan tengah-tengah antara lebaran tahun ini dengan tahun depan. Orang tua saya sebenarnya tidak pernah menuntut saya harus bekerja dekat dengan mereka. Baginya anak laki-laki itu harus merantau biar luas wawasannya. Bahkan sejak kelas 6 SD sampai lulus kuliah saya sudah keluar dari rumah.

Posisi saya sebagai pelaksana memang menyulitkan. Mutasi pelaksana skalanya tidak nasional, hanya regional dalam lingkup satu kantor wilayah. Artinya, kemungkinannya saya hanya akan berotasi di sekitar provinsi Bandar Lampung dan Sumatera Selatan. Kondisi itu kian membuat saya tidak semangat bekerja. Saya lampiaskan itu dengan kabur-kaburan dari kantor. Seusai absen pagi biasanya saya lari ke warung Uda Mie Rebus, ngopi di situ sampai menjelang siang. Jam istirahat saya manfaatkan untuk makan siang dilanjutkan dengan tidur siang di kamar kost sampai pukul 14 an. Kembali ke kantor bukannya bekerja, tapi malah main games di komputer atau sibuk tebar pesona ke tenaga honorer yang memang manis-manis tampangnya. Pukul 16 saya sudah sibuk nyari-nyari kertas absen, pengin cepat-cepat main tennis. Begitulah perilaku saya, setiap hari, terus menerus.

Saya bukannya tidak berusaha mengurus mutasi dari sini. Tapi semua upaya saya, baik yang kasak-kusuk maupun yang legal selalu gagal. Saya sudah dua kali mendaftar sekolah Ajun Khusus, keduanya gagal. Saya patah arang, tapi tak juga membuat kinerja saya membaik. Saya cenderung mengumpat organisasi yang telah begitu tega menjerumuskan saya ke kota kecil di pedalaman Sumatera Selatan ini.

Demikianlah saya. Saya lebih memilih mengumpat dengan keras, bukan bekerja dengan keras agar pimpinan melihat prestasi saya sehingga mungkin itu bisa dijadikan pertimbangan mutasi ke home base. Saya hanyalah manusia penggerutu.

Hotel Atria Serpong, 19 September 2013, 09:38:43 WIB.

Post a Comment