Sunday, September 22, 2013

Katakan Tidak pada Blackberry


"Dhik, bapak mau tidur, hapenya nanti bawa masuk ya.."

"Iya, Pak. Ni Byan masih mainin."

Saya lantas beranjak masuk rumah. Minggu siang itu begitu redup, memancing kantuk cepat datang. Tak lama kemudian saya terlelap.

Saya terbangun pukul 16.00 WIB. Secangkir kopi panas sudah tersedia di meja makan. Setelah mendirikan sholat Ashar saya lantas membawa kopi itu ke teras. Deru dan laju pesawat terbang sesekali melintas di seberang rumah saya. Rumah saya memang hanya berjarak 300an meter dari landas pacu bandara Halim Perdana Kusuma.

Senja lantas datang meremang. Kelar mandi, saya langsung mendirikan sholat Magrib. Seterusnya adalah menyantap makan malam.

"Dhik, hape bapak mana?"

Anak bungsu saya terbengong. Ekspresi wajahnya dilanda kecemasan.

"Eh...dimana ya.... Tadi Byan taruh di meja situ, Pak."

Saya bergerak cepat. Naluri saya menangkap sesuatu yang buruk. Saya panggil nomor hape dari telepon rumah. Mesin penjawablah yang menyahut di seberang sana, memberitahu bahwa nomor tujuan sedang tidak aktif. Tak terdengar nada dering di dalam rumah. Nyonya saya lantas menginterogasi Abyan. Jawabannya plin-plan. Saya mencapai titik puncak emosi, pasrah. Hape Motorolla V series itu telah hilang.

Dua hari berikutnya saya disibukkan dengan pengurusan SIM Card yang hilang. Nomor ponsel itu sudah saya pakai sejak tahun 2002, dan saya sangat tidak berminat menggantinya dengan nomor baru. Terlalu ribet bikin pengumumannya.

Selesai dengan urusan penggantian SIM Card tiba saatnya membeli ponselnya. Saya browsing ke situs gadget. Saya batasi query saya pada harga di bawah dua juta rupiah. Saya memang penganut paham konservatif untuk urusan gadget. Bagi saya membelinya harus sesuai dengan kebutuhan, bukan bagian dari gaya hidup.

Saat itu ponsel pintar Blackberry sedang moncer-moncernya. Saya bukannya tidak tertarik, tapi ego saya mengatakan, Blackberry itu main stream banget. Saya amat benci dengan perilaku penggunanya yang selalu tenggelam dalam ke-autis-annya. Ego itu menuntun keputusan saya, saya akan membeli ponsel apapun asal bukan Blackberry.

Pilihan saya akhirnya jatuh ke Nokia E63 seharga 1,85 juta rupiah. Ini ponsel Qwerty pertama saya. Bagi saya penampilan antar mukanya elegan dan ukurannya ergonomis di telapak tangan saya yang berjari besar ini.

Hari Kamis saya sudah kembali terhubung ke dunia luar. Puluhan pesan pendek menyerbu masuk di hari pertama tersebut. Beberapa pengirim pesan mengeluh kemana saja saya selama tiga hari tidak bisa dihubungi sama sekali. Salah satu pesan pendek itu datang dari sahabat saya yang berkantor di lantai 26 gedung yang sama dengan kantor saya.

"Bey, kemana aja seeeh. Cepet hubungi aku dong, urgent."

Saya segera menghubungi dia. Panggilan saya tidak dia respon. Saya lantas mengirim pesan pendek, memberitahu penyebab putusnya komunikasi tersebut. Pesan pendek itu tidak terbalas sampai hari Jumat keesokan harinya. Saya dalam hari bertanya-tanya, ada apa gerangan. Dia menyuruh saya untuk menghubunginya tetapi sampai Jum'at siang tidak ada balasan pesan pendek saya.

Panggilan darinya akhirnya masuk ketika sudah pukul 15.00 WIB.

"Adoooh....kenapa sih hape bisa ilang gitu?"

"Biasa lah Pak, anakku lupa, hape di taruh di teras. Yo wis, bablas angine..haha.."

"Eh, Bey... Kebetulan aku baru ganti hape. Lu mau nggak pake hapeku yang lama. Tapi maaf lho ya, ini lungsuran."

"Weh....hape Blackberry itu?"

"Iya.... Mau nggak? Kalo mau sore ini ambil ke 26 ya.."

Saya tertegun setelah percakapan tersebut usai. Rentetan peristiwa dari hari Minggu ini begitu sarat makna bagi saya. Kehilangan ponsel merupakan sesuatu yang menyakitkan dan mengesalkan. Kerugian material jelas, tapi yang lebih terasa adalah hilangnya seluruh kontak di ponsel tersebut. Ketika kemudian saya memutuskan membeli penggantinya, ego saya mengatakan asal bukan Blackberry. Tapi apa lacur, belum genap 24 jam ego itu saya eksekusi, saya mendapat rejeki lungsuran Blackberry.

Kini tiga setengah tahun telah berlalu. Saya tetap setia memakai Blackberry. Ini adalah satu-satunya ponsel yang saya punya, tak ada ponsel lain di tangan saya. Ini adalah Blackberry ketiga yang saya punyai. Ketiganya pemberian semua, tidak ada yang saya beli sendiri.

Sejarah sedang berulang. Dunia sedang goncang oleh langsiran program chatting BBM untuk pengguna ponsel berbasis Android dan Ios. Sejenak hiruk pikuk pameran mobil di Kemayoran terlupakan. Anak sulung saya sudah kasak-kusuk dengan teman-temannya mengenai PIN yang akan segera tertanam di ponsel Android-nya. Teman-teman komunitas mobil se-merk bahkan sudah banyak yang berhasil memasang program tersebut dan dengan percaya diri mengumumkan PIN-nya minta di-invite. Di media sosial pun diramaikan dengan hal ini. Saya tersenyum dalam hati. Saya hanya belajar satu hal, tak ada gunanya menaruh rasa apapun secara berlebihan, termasuk rasa benci. Terbukti ego saya menemukan karma. Say no to Blackberry itu hanya bertahan tiga hari.

Teras Rumah, 22 September 2013, 20:19:05 WIB.
*tulisan ini dibuat di aplikasi Note Blackberry...
Post a Comment