Monday, September 23, 2013

Saya (bukan) Ayah yang Baik

21 April 2006 - Kartinian SD Angkasa III


1 Juni 2013 - Wisuda SMP
Persoalannya sebenarnya amat sepele. Anak sulung saya, Abiyyu, waktu itu baru berumur delapan tahun. Dia duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak kecil dia sudah didiagnosa punya alergi terhadap hawa dingin dan minuman dingin. Kami sebagai orang tuanya lantas mengambil sikap, melarang dia mengkonsumsi minuman dingin dan menyelimuti dia rapat-rapat ketika tidur. Bukan apa-apa, kami kasihan melihat kondisinya ketika terserang alergi. Saluran pernafasannya pasti tersumbat sehingga tidurnya tidak nyenyak. Dia juga ngorok.

Tapi apa daya, larangan itu sering dilanggar olehnya. Diam-diam, ketika lepas dari pengawasan kami, dia suka membeli jajanan minuman dingin. Berulangkali kami memarahinya tapi tak juga membuatnya jera.

Malam itu dia merengek minta manisan buah yang ada di lemari pendingin. Saya bersikukuh tidak mengijinkannya. Nyonya saya idem dito. Tapi dia merengek, bahkan menangis. Saya menyerah.

"Ya sudah Kak, tapi ambil sendiri ya, segelas kecil aja."

Dia lantas mengambil gelas kecil di rak piring yang terletak persis di sebelah kiri lemari pendingin itu. Saya meneruskan nonton siaran televisi di ruang tengah, persis di depan lemari pendingin itu. Ruang tengah rumah kami memang menyatu dengan dapur. Pembatasnya hanya berupa meja makan berbentuk huruf "L". Meja makan itu terbuat dari bata yang bagian atasnya saya lapisi dengan keramik ukuran 40 x 40 cm sepanjang 2 meter. Desain ini terinspirasi dari meja bar di Pasar Festival Kuningan, tempat saya dahulu suka bermain bilyard.

Di ruang tengah tempat televisi itu terpajang, tidak ada kursi atau alas lantai yang permanen. Saya memang sengaja mengosongkan ruang tengah tersebut agar terlihat lapang. Kalau pengin nonton televisi kami menggelar kasur Palembang. Praktis dan tidak memakan tempat.

Saya masih asyik mencari-cari kanal stasiun televisi yang menarik untuk ditonton ketika tiba-tiba terdengar bunyi "krompyang". Saya kaget. Bunyi itu berasal dari arah lemari pendingin. Rupanya baskom alumunium tempat manisan buah itu jatuh ke lantai. Anak saya sembrono. Dia tidak mengeluarkan baskom itu terlebih dahulu, tetapi nekad mengambil manisan buah dari dalam lemari pendingin.

"Kakak!!! Gimana sih? Ayoooo, bersihin semua tumpahan itu. Bersihin pake kain pel terus keringin pake lap!!"

Saya meradang tak kepalang. Emosi saya membuncah.

"Tadi kan bapak sudah ngomong, hati-hati ngambil manisannya. Keluarin dulu baskomnya. Masak gitu aja nggak bisa sih.

Anak saya diam, tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia tampaknya juga kaget dengan suara keras tadi. Dengan muka menunduk dia ambil kain pel di kamar mandi. Segera dia lakukan semua perintah saya tanpa bersuara sedikitpun. Nyonya saya yang sudah tidur dengan anak bungsu saya sampai terbangun mendengar teriakan saya. Dia segera ke dapur mengambil kain lap untuk mengeringkan lantai yang sudah selesai dipel oleh Abiyyu.

"Nggak usah dibantuin, Ma. Biarin dibersihin sendiri sama kakak. Bandel sih."

Nyonya saya surut langkah. Dia sudah hafal dengan sifat suaminya. Dalam kondisi seperti ini saya memang pantang dilawan, atau saya akan kian emosi. Dia memilih kembali ke kamar tidur.

Adik kandung saya, Bowo, yang melihat kejadian itu juga tak berani berkata apa-apa. Dia memilih menyingkir ke teras. Baginya, kakak tertuanya itu terlalu menakutkan untuk dikoreksi.

Saya lantas meneruskan mencari-cari kanal siaran televisi. Tak juga menemukan siaran yang menarik, saya lantas mencuci kaki, tangan, dan muka, bersiap tidur. Sebelum menuju kamar tidur, saya melongok ke kamar tidur tengah tempat Abiyyu tidur bertiga dengan mamanya dan adiknya. Dari balik pintu saya melihat dia sedang duduk di tepi ranjang. Wajahnya menunduk, air matanya berlinang. Dia duduk sembari memegangi gelas kecil yang masih kosong.

Saya tak jadi menuju tempat tidur. Kantuk saya hilang seketika. Dada saya sesak oleh emosi yang berbalik arah, sebuah penyesalan. Saya duduk merenung di balkon jemuran. Dalam kegelapan malam saya ngunandika. Jabatan tertinggi di rumah ini tak membuat saya dewasa. Selama ini saya cenderung gencar mengkritik atasan yang saya nilai tak punya nurani memimpin kami. Saya sedemikian mudah mencacinya, mengumpatnya dengan pikiran buruk, percuma kalian digaji besar tapi kenyataannya kalian hanya tenggelam dalam kursi empuk kekuasaan. Sejenak saya sadar, saya ternyata belum bisa memegang amanah yang secara kodrati tersemat sebagai ayah. Saya hanyalah pria ingusan yang tak bisa mengendalikan kekang amarah.

Kampung Makasar, 23 September 2013, 23:30:15 WIB.
Post a Comment