Wednesday, December 2, 2015

Topeng Koppig, Jubah MKD, dan Menyoal Muasal Nabi Adam

Panggung itu seolah tak terbendung, menampilkan drama yang amat sarat konflik. Sudirman Said, Menteri ESDM duduk di sisi yang saya taksir dekat dengan pintu masuk, menghadap jajaran Ketua Sidang; sendirian, lebih mirip pesakitan dibanding saksi kunci pembuka kotak Pandora.
Maka begitulah drama ini adanya, telanjang tanpa benang penutup. Anggota  Majelis Kehormatan Dewan DPR hari ini, sampai saat tulisan ini saya bikin, masih bersidang. Mereka mencoba menanggalkan jati dirinya sebagai politikus dengan cara mengenakan jubah ala hakim, jaksa atau pembela. Berhasilkah? Tak adil menilai hasil kerja mereka dari hanya yang tersaji hari ini lewat siaran langsung Metro TV dan Kompas TV. Hasil akhirnya mungkin masih panjang, berliku dan nyaris bisa ditebak. Hari ini kita hanya diberi sajian betapa mereka tetaplah politikus dengan agenda partai masing-masing. Hari ini mereka kian meneguhkan jati diri sebagai wakil partai bukan wakil rakyat, sebagaimana kodrat jabatan yang mereka emban.
Tengoklah kualitas pertanyaan mereka. Menyebut media yang harusnya Kompasiana saja politisi Golkar itu keliru menjadi Kompasmania. Lalu banyak pertanyaan yang didasarkan pada berita di media, bukan hasil pendalaman materi yang saya yakin sudah mereka terima sebelum sidang digelar.
Kelucuan dan kekonyolan itu bergulir begitu saja, sementara di satu sisi Sudirman tetap anteng dengan eksistensinya. Akuntan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ini tak menampakkan kegentaran dan keraguan sedikitpun ketika dicecar dengan pertanyaan yang provokatif. Memang nadanya sempat meninggi ketika dia merasa dituduh melanggar hukum atas dugaan upaya perpanjangan kontrak Freeport, namun beberapa saat kemudian senyumnya kembali mengembang. Dalam hati pria kelahiran pesisir Pantura ini mungkin menahan geli ketika integritasnya diragukan hanya dengan mempertanyakan statusnya sebagai anggota Partai Keadilan Sejahtera beberapa tahun silam.
Sebagai sosok menteri, Sudirman sadar bahwa ia hanyalah bawahan presiden. Maka segalanya tampaknya sudah dia siapkan dengan matang, sebelum membawa rekaman ini ke MKD. Dia pasti paham bahwa atasannya meski tampak plonga-plongo  punya kepribadian yang amat koppig dalam urusan martabat bangsa. Sudirman pasti sadar bahwa kunci yang ia genggam punya pengaruh yang amat akbar, tak hanya soal nama SN, tapi soal tabiat para pengejar rente di negeri ini.
Maka di balik euforia saya sebagai teman sealumni, sesungguhnya saya sedang kawatir. Di jaman kemerdekaan ini kebenaran rasanya malah susah ditegakkan. Nama-nama pengungkit tabiat durjana malah raib, diraibkan, atau setidaknya dikerdilkan dengan beragam cara.
Saya hanya kawatir, para pemakai jubah warna Merah Putih itu sampai harus mempersoalkan muasal nabi Adam yang diturunkan ke bumi oleh Tuhan justru akibat kesalahannya makan buah Khuldi, agar eksistensi Sudirman di depan sidang mereka tak bertahan lama.


Bandung, 2 Desember 2015.
Post a Comment